Carut-marutnya objek wisata Kintamani mengundang keprihatinan Bupati Bangli Made Gianyar, S.H., M.Hum. Untuk mencapai target kunjungan dan retribusi dari objek wisata ini, mulai tahun ini dilakukan pembenahan dan penataan ulang sarana objek wisata Penelokan. Serta penataan pedagang acung yang selama ini kerap bermasalah serta menjadi bulan-bulanan keluhan pelaku pariwisata Bali.
“Kami sangat serius membenahi objek wisata Kintamani dan Penelokan yang selalu dikeluhkan wisatawan,” kata Made Gianyar, Kamis (3 Maret 2011). Menurutnya, pembenahan akan terus dilakukan dengan fokus tahun 2011 sudah mulai menunjukan perubahan dibandingkan sebelumnya. Baginya, pedagang suvenir yang selama ini disorot negatif lantaran kerap rebutan rezeki mulai akan ditata. Mungkin penataan akan bercermin dari spirit lagu Ebite G. Ade yang menyatakan gadis-gadis kecil di Kintamani berjualan menjajakan cincin. Artinya, pengemasan gadis-gadis kecil ini mungkin bisa menjadi spirit bahwa pedagang souvenir itu sebenarnya juga menjadi objek. Sehingga tidak ada lagi ke depan ditemukan ibu-ibu atau nenek tua berjualan sambil menggendong anak.
Pekerjaan menjual cenderamata ini pun sebenarnya perlu untuk dikaji. Apakah dengan berjualan seperti itu mereka bisa hidup. Atau justru sebaliknya berjualan suvenir lantaran terpaksa. Jika berjualan suvenir ini lantaran terpaksa, perlu dicarikan jalan keluar untuk meningkatkan derajat hidup masyarakat yang selama ini banyak menggantungkan hidup dan berjualan semacam itu.
Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) pemerintah Badung mengeluarkan imbauan. Dinas Pariwisata Kabupaten Badung telah mengirim surat imbauan kepada industri pariwisata. Hotel-hotel di Badung menjelang akhir tahun sudah mengalami over booking. Ini bertujuan agar hotel – hotel meningkatkan pengamanan dan keamanannya.
Sementara itu, potensi gangguan keamanan saat Nataru pasti meningkat akibat banyaknya wisatawan yang datang ke Badung. Saat kunjungan Nataru, perlu adanya pengawasan ekstra. Hotel-hotel dan pengelola kawasan wisata meningkatkan pengamanan internal. Saat terjadi konsentrasi manusia dalam jumlah besar, apapun bisa terjadi sehingga perlu koordinasi dan pengamanan yang lebih intensif.
Sementara itu, jumlah kunjungan wisatawan saat Nataru ke Badung pasti meningkat. Siklus ini terjadi tiap tahun. Banyak orang ingin menghabiskan liburan akhir tahun ke Bali. Tak mengherankan hotel-hotel di Badung sudah over booking. Sejak tanggal 28 Desember hingga 5 Januari 2011 kamar hotel di Badung sudah terisi penuh. Tingkat hunian hotel di Badung sejak beberapa hari lalu sudah mulai mengalami peningkatan. Banyak wisatawan asing yang sudah mulai datang ke Bali dan merayakan akhir tahun di Bali. Hotel dan restoran di Badung pun sudah mulai memasang aksesori Nataru.
Selain itu, Badung sebagai destinasi utama pariwisata di Bali menargetkan jumlah kunjungan sekitar 2,3 juta wisman. Melihat data sementara, tampaknya target kunjungan wisman tersebut akan tercapai.
Adanya bencana di Indonesia seperti gempa, tsunami, bencana Merapi mungkin masih menyisakan kekhawatiran mendalam bagi pelaku pariwisata Bali. Pelaku pariwisata diminta tidak khawatir dengan bencana alam tersebut tetapi yang perlu diantisipasi bencana yang mungkin bisa mengancam keamanan Bali. Bencana alam seperti Gunung Merapi tidak menganggu aktivitas penerbangan internasional di Singapura, Malaysia, Jakarta maupun Bali. Pesawat yang mengantar wisatawan mancanegara ke Indonesia bisa mendarat dengan aman di Jakarta maupun di Bali.
Selain itu, bencana alam di Indonesia memang diharapkan tidak berdampak kerusakan fisik sarana pada pariwisata Bali. Kenyataan di lapangan wisatawan yang berlibur ke Bali tidak melihat imbas bencana di Indonesia terhadap layanan pariwisata di Bali. Kunjungan wisatawan ke Bali cukup tinggi setelah pemberitaan bencana alam di Indonesia.
Pemerintah diharapkan bisa cepat memperbaiki kawasan yang selama ini menjadi tempat terjadinya bencana seperti Yogyakarta dan kawasan lainnya. Setelah perbaikan tersebut wisatawan mancanegara dari Bali bisa mengunjugi Yogyakarta melalui paket Bali-Yogyakarta.
Sementara itu, penurunan sektor pariwisata tidak hanya karena pengaruh bencana alam tetapi juga pengaruh konflik/perang di kawasan pariwisata tersebut. Di kawasan pariwisata terjadi wabah penyakit seperti kolera termasuk jenis penyakit lain yang bisa menular ke wisatawan. Penurunan kunjungan ke suatu kawasan pariwisata karena pengaruh eksternal. Salah satunya penurunan kondisi ekonomi yang terjadi di negara asal wisatawan. Krisis ekonomi global bisa berdampak pada penurunan animo wisatawan dunia untuk berlibur ke kawasan pariwisata.
Selain itu, sektor pariwisata sangat riskan dengan masalah penyakit dan keamanan. Seperti sebelumnya di Irak terjadi perang, sehingga wisatawan takut berlibur Irak. Bahkan, di Bali sempat diisukan terjangkit penyakit kolera sehingga wisatawan seperti dari Jepang sempat takut berlibur ke Bali. Namun Bali tetap perlu mengantisipasi ancaman bencana yang bisa berdampak terhadap sektor keamanan Bali. Isu keamanan juga bisa mengancam wisatawan takut untuk berlibur ke Bali. Seperti bom Bali bisa sebelumnya sempat berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan ke Bali. Ancaman keamanan ini hanya bisa diantisipasi dengan menjaga keamanan Bali tetap kondusif bersama seluruh komponen masyarakat di Bali.
Pemerintah melalui lembaga pengawas sudah menetapkan status waspada terhadap Gunung Batur. Para wisatawan yang ingin melakukan pendakian Gunung Batur di Kintamani, Bali masih aman walau statusnya masih waspada. Demikian dikatakan Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Propinsi Bali. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bali serta Pusat Pengamatan Vulkanologi Gunung Batur di Kintamani menyebutkan status gunung tersebut masih waspada. Walau sejak 9 November 2009 hingga kini statusnya tetap waspada,dan belum mengarah status awas, tetapi masih aman dikunjungi wisatawan yang hobi mendaki gunung.
Sementara itu, diharapkan kepada warga masyarakat sekitar gunung tersebut tidak panik dengan isu-isu yang meresahkan, terkait sejumlah gunung berapi di Indonesia meningkat statusnya dari waspada menjadi awas. Nanti kalau ada informasi terkait peningkatan status Gunung Batur di Bali, akan segera sampaikan, baik melalui posko bencana maupun media massa baik elektronik maupun cetak.
Gunung Batur setinggi 1.717 meter di atas permukaan laut itu, terakhir tercatat menyemburkan asap putih disertai munculnya bau belerang yang cukup menyengat pada pertengahan 2000. Sementara pada letusan 1994 dan 1997, diwarnai semburan asap tebal dan pijaran api hingga menyebabkan bagian barat kaki gunung menyisakan abu berwarna coklat kehitam-hitaman. Dari sederet letusan yang muncul dalam beberapa tahun belakangan, hanya tercatat sempat menimbulkan seorang korban jiwa manusia, yakni turis asing yang tengah melakukan pendakian, tewas terjebak kabut asap cukup panas.
Pemerintah Kabupaten Gianyar sangat membutuhkan kekuatan pemasaran yang andal untuk pemerataan pembangunan pariwisata di wilayah itu. Saat ini Gianyar perlu marketing force yang kuat sehingga kue pariwisata tidak hanya didominasi satu tempat seperti wilayah Ubud misalnya.
Selama ini wisatawan tidak tahu kalau wilayah Ubud adalah bagian daripada Kabupaten Gianyar, hal ini membuktikan pemasaran pariwisata yang masih lemah. Dengan adanya kekuatan pemasaran yang andal, Kabupaten Gianyar bisa dikemas secara menyeluruh utamanya soal potensi yang dimiliki masing-masing kecamatan. Dengan masing-masing potensi yang dimiliki dikemas dengan baik, secara otomatis pemerataan pariwisata itu akan ada. Kalau dana untuk menghimpun kekuatan pemasaran itu besar, namun jika niat untuk memeratakan pembangunan pariwisata itu ada tidak masalah.
Sementara itu, Bupati Gianyar telah membagi lima zona pembangunan Kabupaten Gianyar. Pembagian zona ini akan dilakukan untuk pengembangan sekaligus pemerataan pariwisata di Kabupaten Gianyar. Menurutnya, ada pun pembagian zona itu di antaranya untuk zona Payangan bakal dibangun wisata agrowisata, zona Kecamatan Ubud, Tampaksiring dan Tegallalang wisata seni, budaya dan benda bersejarah.
Kecamatan Blahbatuh dan Gianyar dikembangkan sarana olah raga dan rekreasi serta Kecamatan Sukawati dikembangkan sebagai wisata menjual kerajinan tangan.
Hari raya bagi pengelola objek wisata merupakan berkah tersendiri. Tak terkecuali objek wisata Tanah Lot Tabanan. Saat libur Lebaran belum lama ini, objek wisata yang mendapat kunjungan tertinggi di Bali itu, dibanjiri wisatawan, khususnya wisatawan domestik (wisdom). Kendati belum ada data yang pasti, kunjungan wisdom ke Tanah Lot saat libur Lebaran naik sekitar 48 persen dibandingkan momen yang sama tahun lalu.
Wisdom yang berkunjung ke Tanah Lot, banyak dari daerah di Pulau Jawa seperti, Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Sidoarjo dan ada juga dari Makassar, Sulawesi Selatan. Wisdom berdatangan ke Tanah Lot sejak pagi. Untuk mengantisipasi melubernya area parkir, pihak pengelola sudah menyiapkan lahan parkir.
Sementara itu, untuk bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung, telah dipasang kamera CCTV delapan unit di titik-titik rawan, sementara aktivitas yang dilakukan wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot antara lain, sekadar jalan-jalan menikmati keindahan panorama yang ada di Tanah Lot, melakukan tato temporary , melihat ular dan air suci, pemotretan, membeli oleh-oleh khas Bali, hingga mencicipi kuliner yang ditawarkan di Tanah Lot.
Akomodasi wisata di Bali sudah berlebih. Memasukkan akomodasi dalam daftar negatif investasi (DNI) atau moratorium merupakan kebijakan yang terbaik akan dilakukan. Diharapkan untuk sementara pembangunan hotel di Badung dan Denpasar dihentikan. Untuk menghentikan ini memang harus ada kebijakan khusus. Penghentian pembangunan akomodasi hanya bisa dilakukan dengan moratorium dan memasukkan investasi tersebut dalam DNI. Tahun 1993 Pemprop Bali sebenarnya sudah melakukan moratorium dan dipertergas kembali pada 2003. Moratorium dalam bentuk imbauan tersebut ternyata tidak efektif.
Pembangunan hotel di dua wilayah (Badung dan Denpasar) bertambah dengan pesat. Dari data Diparda Bali tahun 2009 jumlah akomodasi di Bali sebanyak 2.175 hotel dengan jumlah kamar 46.014. Jumlah kamar yang ada di dua wilayah Badung dan Denpasar mencapai lebih dari 33.800 kamar. Akupansi hotel di Bali masih sangat rendah bahkan hanya 50-60 persen.
Sementara itu, diperkirakanbanyak akomodasi saat ini yang belum terdata yang menyebabkan akupansi hotel rendah. Jumlah riil kamar hotel di Badung dan Denpasar mungkin saja jauh lebih banyak dari yang kini terdata. Hotel terus tumbuh di dua wilayah di Bali. Diharapkan kedua wilayah ini untuk sementara menghentikan pembangunan akomodasi.
Seandainya moratorium tidak bisa menghentikan pembangunan akomodasi, pilihan lain adalah memasukan investasi hotel kedalam DNI. Jika moratorium dilakukan, siapa pun tidak boleh membangun akomodasi.
Citra pariwisata Kintamani kini tak lagi berjaya seperti pada tahun 90-an lalu. Pada saat itu, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan sejuk ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan, sehingga menyebabkan tumbuhnya pusat-pusat pengembangan bisnis pariwisata di kawasan ini.
Namun, sejalan dengan perkembangan yang terjadi, serta indikasi makin menurunnya kesadaran warga untuk menjaga citra pariwisata, kini kondisi tersebut nyaris hilang. Menjamurnya bangunan melanggar sempadan jurang maupun jalan, serta penataan Kintamani yang belum sesuai dengan harapan menyebabkan citra pariwisata Kintamani mengalami penurunan. Kondisi ini juga berdampak pada anjloknya jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini.
Untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Kintamani seperti tahun-tahun sebelumnya, sangat diharapkan agar seluruh komponen masyarakat Kintamani dilibatkan dalam pengelolaan Kintamani agar citra pariwisata Kintamani sekitar tahun 90-an kembali bisa dirasakan. Peran serta komponen masyarakat termasuk stakeholder lainnya sangat penting dalam mengembangkan potensi wisata di Kintamani. Selama ini ada kesan pengelolaan wisata Kintamani jalan sendiri-sendiri, sehingga kurang memperoleh dukungan dari stakeholder lainnya. Ke depan, ini harus segera diperbaiki.
Sementara itu, untuk ke depan kini memerlukan paradigma baru untuk mengembangkan kawasan Kintamani sebagai salah satu destinasi wisata terkenal, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah masalah tata ruang yang dimiliki Kintamani. Jadi jika tata ruang belum ada, maka akan sangat sulit untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.
Bali menerima kunjungan wisatawan asal Taiwan sebanyak 65.589 orang selama semester pertama 2010, meningkat 13,10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 57.994 orang. Wisatawan Taiwan ini seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya, hanya seorang yang tercatat lewat pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar.
Taiwan menempati urutan kelima dari sepuluh negara terbanyak memasok wisatawan mancanegara ke Bali setelah Australia, Jepang, Cina dan Malaysia . Negara-negara itu mampu memberikan kontribusi sebesar 5,56 persen dari total wisman yang menikmati keunikan seni budaya Bali sebanyak 1,18 juta selama semester pertama 2010, meningkat 10,23 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat 1,07 juta orang.
Sementara itu, dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Bali enam negara di antaranya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan empat negara mengalami penurunan. Keenam negara yang masyarakatnya makin banyak berwisata ke Bali selain Taiwan juga Singapura yang meningkat 55,36 persen dari 26.702 orang pada semester pertama 2009 menjadi 41.483 orang pada semester pertama 2010, menyusul Australia 53,89 persen dari 180.686 orang menjadi 278.049 orang.
Selain itu juga Cina meningkat 0,33 persen dari 97.930 orang menjadi 98.257 orang, Belanda sebesar 40,53 persen dari 25.676 orang menjadi 36.082 orang dan Inggris 2,19 persen dari 37.701 orang menjadi 38.526 orang.
Sementara empat negara yang mengalami penurunan meliputi Jepang sebesar 22,29 persen dari 154.071 orang pada semester pertama 2009 menjadi hanya 119.772 orang pada semester yang sama 2010. Demikian juga Malaysia turun 6,23 persen dari 73.853 orang menjadi 69.251 orang, Korea Selatan 5,81 persen dari 63.045 orang menjadi 59.384 orang dan Prancis 7,67 persen dari 45.716 orang menjadi 42.211 orang.
Promosi kepariwisataan Bali yang dilakukan pemerintah propinsi bersama para komponen yang bergerak di sektor perpelancongan, masih sangat lemah terutama ke negeri yang potensial memasok wisatawan.
Promosi ke negeri yang potensial memasok wisatawan masih lemah, sehingga menuntut untuk dilakukan peningkatan di masa mendatang. Sementara itu, turis asing yang berlibur ke pulau ini masih didominasi oleh pelancong asal Asia Pasifik dengan lama tinggal yang relatif pendek.
Masyarakat internasional yang datang langsung ke Bali sekitar 58,5 persen berasal dari Asia Pasifik, seperti masyarakat Australia, Korea Selatan, Taiwan, Cina dan Jepang.
Sehubungan dengan itu, diharapkan pelancong asal negara yang jaraknya cukup jauh seperti Eropa, Afrika dan Amerika Serikat, dapat ditingkatkan kedatangannya ke Bali. Itu dapat ditingkatkan, asalkan lebih gencar melakukan promosi kepariwisataan ke negara-negara tersebut.
Kedatangan turis asing ke Bali lima bulan pertama 2010 misalnya, tercatat 926.454 orang. Dari jumlah itu, 542.619 orang atau 58.57 persen di antaranya berasal dari negara di kawasan Asia Pasifik, sementara turis AS hanya 45.165 orang atau 4.88 persen. Masyarakat Eropa yang melakukan perjalanan wisata sambil menikmati keindahan alam dan adat istiadat serta kehidupan masyarakat Bali, mencapai 230.332 orang atau sekitar 24.86 persen dari semua turis asing ke Bali.
Kegiatan promosi kepariwisataan mulai berkurang, sehingga perlu jalan keluarnya supaya promosi kepariwisataan Bali tetap ada ke kantong-kantong pariwisata dunia bahwa Bali itu layak dikunjungi.
Di samping promosi tetap harus gencar, kualitas pelayanan juga harus ditingkatkan sejak turis itu menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai, serta di hotel tempatnya menginap dan dalam perjalanan selama berada di Pulau Dewata.