Author Archive

Pelaku pariwisata di Buleleng, mengeluhkan adanya aktivitas calo toris yang bebas berkeliaran. Bahkan, calo turis ini kerap kali menawarkan jasa dengan cara paksa dan mencegat rombongan turis yang melintas di jalan raya. Tak hanya itu, ada turis yang sudah mem- booking kamar hotel dan ketika tiba di Buleleng, turis tersebut malah diambil alih para calo ini untuk diarahkan ke hotel lain.

Sementara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng tidak pernah mengatasi permasalahan ini. Padahal, masalah ini jika dibiarkan akan merusak citra pariwisata di Bali Utara. Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Buleleng, tidak menampik maraknya calo turis yang terus bertambah banyak.

Aktivitas para calo turis ini muncul sejak sejak lama. Calo ini beroperasi di objek pariwisata terkenal di Buleleng seperti di Lovina. Selain itu, mereka juga sering mengejar dan tak segan-segan mencegat rombongan turis yang melintas di jalan raya menuju ke suatu objek wisata di Buleleng.

Dengan mengandalkan modal bahasa Inggris seadanya, para calo ini meyakinkan turis agar jasa mereka digunakan. Jika tawarannya tidak dipenuhi, calo ini nekat memaksa agar turis menggunakan jasa yang ditawarkan. Diharapkan agar Disbudpar Kabupaten Buleleng yang mengurus pariwisata untuk melakukan upaya pencegahan agar praktik calo turis ini tidak makin parah.

Aktivitas para calo touris ini kian meresahkan, karena Disbudpar tidak pernah memberikan peringatan bahwa perlakuan yang mereka lakukan menyimpang dan telah mencoreng citra pariwisata. Dari pihak PHRI Buleleng sudah menyampaikan praktik calo turis yang kian marak kepada Disbupdar. Sayangnya, hingga kini Disbudpar Buleleng tidak menanggapi, sehingga praktik calo turis ini pun kian marak.

Sementara jika PHRI yang terlalu jauh memposisikan diri mengatasi calo turis dikawatirkan akan menimbulkan kesan negatif apalagi aktivitas calo ini menyangkut pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga yang paling tepat mengatasi permasalahan ini adalah Disbupdar maupun polisi pariwisata (Polpar).

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal India yang melakukan perjalanan wisata ke Bali melonjak dari sebanyak 2.565 orang selama April 2010 menjadi 4.061 orang bulan berikutnya. Ramainya turis India ke Bali, sesuai keinginan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang ingin membidik lebih banyak masyarakat negeri Baratha itu berlibur ke Bali.

Jero Wacik melontarkan keinginannya untuk bisa membidik lebih banyak orang-orang kaya dari India datang berlibur ke Bali karena memiliki ikatan sejarah terutama terhadap Hindu. Promosi pariwisata yang pernah dilakukan ke negeri itu, tampaknya sudah memberikan hasil walaupun masih perlu ditingkatkan, karena sesuai laporan Dinas Pariwisata Daerah Bali, turis India ke Bali mencapai 14.116 orang (Januari – Mei 2010).

Usaha akomodasi perhotelan di Bali menyambut baik, usaha masyarakat maupun tokoh-tokoh spiritual yang ada di daerah ini, ikut mengembangkan pariwisata sehingga mampu memberikan kedamaian kepada semua pihak. Adanya hubungan baik yang ditindaklanjuti dengan kerja sama kebudayaan antara Bali (Indonesia) dan India maka makin menyatu antarkedua negara, maka diharapkan akan menambah gairah bagi rakyat yang berpenghasilan tinggi India datang ke Bali.

Adanya pusat-pusat kebudayaan India dengan praktik yoga dengan mendatangkan pelatih dari negeri seberang itu, otomatis akan mampu memberikan informasi tentang budaya Bali setelah mereka kembali ke India .

Wisatawan yang datang ke Kintamani, umumnya hanya ingin menyaksikan keindahan panorama alam gunung dan Danau Batur dari objek wisata Penelokan-Desa Batur. Padahal sesungguhnya bagian paling indah yang bisa disaksikan oleh wisatawan jika ingin datang ke Kintamani adalah dengan berkunjung ke Kintamani Timur.

Karena adanya kendala sarana prasarana seperti jalan yang masih belum memadai, ditambah lokasinya yang harus dicapai dengan cara jalan kaki atau mendaki, keindahan Kintamani Timur belum bisa digarap dengan sempurna. Potensi yang dimiliki sangat besar, bahkan jauh lebih indah dibandingkan dengan pemandangan dari Penelokan.

Sementara itu, untuk bisa menyaksikan keindahan panorama alam di Kintamani Timur tersebut diperlukan perjuangan keras untuk mencapai titik yang diinginkan. Wisatawan harus melakukan pendakian melalui Desa Songan dan sekitarnya. Memang perjalanannya cukup melelahkan, namun segala kelelahan tersebut akan terobati setelah menyaksikan keindahan panorama alam di ujung timur.

Dari kawasan ini, dapat menyaksikan hamparan laut, serta hamparan yang sangat indah yang sulit ditemukan di tempat lain. Mengingat potensi yang dimiliki tersebut sangat besar dan potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata, seharusnya Pemkab Bangli maupun Pemprop Bali turun tangan untuk mempersiapkan sarana dan prasarana, khususnya jalan menuju lereng sebelah timur Kintamani. Ini sangat perlu dilakukan jika ingin menambah jumlah destinasi wisata di Kintamani.

Gemerlap pariwisata Bali mengundang usaha pendukungnya. Jasa angkutan menjadi salah satu sektor usaha yang kian marak. Banyak jasa angkutan dan penyewaan kendaraan yang bodong. Bahkan, disinyalir kini banyak angkutan pariwisata mewah bodong juga beroperasi.

Kini banyak layanan jasa angkutan yang mengoperasikan kendaraan mewah seperti limosine. Mereka beroperasi tidak memiliki izin alias bodong. Angkutan mewah bodong ini tentu saja sangat merugikan angkutan resmi dan pemerintah.

Kendaraan mewah ini kebanyakan berasal dari luar Bali dan menggunakan plat hitam. Mereka menyamarkan praktiknya tersebut seperti kendaraan pribadi. Bisa dibayangkan berapa besar hilangnya pendapatan daerah dari praktik ilegal seperti ini. Praktik seperti ini harus segera ditertibkan.
Adapun jumlah kendaraan sewa di Bali yang memiliki izin berjumlah 4.444 kendaraan, namun jumlah kendaraan sewa yang ilegal jumlahnya jauh lebih banyak. Kita perkirakan jumlah kendaraan ilegal bisa mencapai angka 200 persen dari yang resmi.

Misalkan, kendaraan sewa di sektor pariwisata, jika ada 1.600 vila dan tiap vila dilayani oleh 2 kendaraan sewa, berarti jumlahnya saja sudah 3.200. Belum lagi kendaraan sewa yang beroperasi di jalan-jalan dan hotel. Tim yustisi yang dibentuk gubernur dalam tahap awal baru menyasar taksi di Bali, namun selanjutnya akan beralih ke penataan angkutan wisata.

Diharapkan dengan penataan angkutan di Bali dengan baik akan tercipta sistem angkutan yang lebih baik. Jasa angkutan harus memenuhi standar layanan yang baik serta adanya persaingan yang makin sehat di antara penyedia jasa angkutan.

Memasuki bulan Juni 2010 bersamaan dengan musim liburan, kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik di objek Monkey Forest Ubud cukup ramai. Kondisi ini bisa dilihat dari makin tingginya pemasukan yang diperoleh dari penjualan tiket masuk untuk wisatawan.

Sejak mulai liburan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik sudah cukup ramai. Pendapatan dari penjualan tiket masuk rata-rata di atas Rp 6 juta per hari. Tiap liburan terlebih di hari Sabtu dan Minggu, jumlah kunjungan wisatawan di objek wisata tersebut dipastikan ramai. Baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang sekarang didominasi wisatawan asal negara Asia.

Sementara wisatawan asal negara Eropa bulan ini tidak begitu banyak, jika dibanding dengan hari-hari sebelumnya. Dengan harga tiket sebesar Rp 20.000 per orang dewasa pendapatan dari penjualan tiket masuk rata-rata di atas Rp 6 juta per hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding dengan sebelum liburan.

Di objek wisata ini, wisatawan selain bisa bercengkerama dengan kera, yang jumlahnya terus makin bertambah. Di samping itu wisatawan dapat menyaksikan beberapa tanaman langka yang ada di Bali yang dikembangkan di kawasan hutan yang luasnya lebih dari 2 hektar itu.

Selain itu, ketertarikan wisatawan berkunjung ke objek wisata itu juga disebabkan oleh karena kera cukup jinak. Dengan demikian, wisatawan membiarkan kera naik ke punggungnya sambil menikmati buah pisang yang diberikan oleh pengunjung. Inilah kelebihan kera itu, jinak dan tidak nakal.

Adanya upaya pemerintah membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk kendaraan roda dua, mendapatkan tanggapan dari pengelola angkutan pariwisata. Ketua Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) mengatakan, pemerintah bisa saja membatasi penggunaan BBM bagi angkutan roda dua termasuk kendaraan mewah, tetapi angkutan pariwisata masih memerlukan BBM bersubsidi karena merupakan transportasi publik bagi masyarakat dan wisatawan.

Diharapkan agar pemerintah perlu memperjelas pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk jenis kendaraan apa saja. Kendaraan pribadi yang berkelas mewah dan ber-cc besar mungkin sangat wajar diberikan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi. Hanya saja, angkutan pariwisata termasuk angkutan sewa masih sangat membutuhkan BBM bersubsidi.

Angkutan pariwisata dan angkutan sewa merupakan bagian dari angkutan umum tanpa trayek. Dalam operasional angkutan pariwisata, biaya BBM mengambil 30-40 persen dari total biaya operasional.

Jika pemerintah juga berencana membatasi penggunaan BBM bersubsidi untuk angkutan umum, hal tersebut tentunya akan sangat dikeluhkan pengusaha angkutan pariwisata di Bali. Dampak dari pembatasan penggunanaan BBM bersubsidi ini akan membatasi ruang gerak angkutan pariwisata. Bahkan, jika BBM untuk angkutan umum tidak disubsidi lagi akan berdampak pada kenaikan biaya BBM pada angkutan pariwisata.

Kenaikan biaya BBM pada angkutan pariwisata ini akan mendorong kenaikan tarif angkutan pariwisata termasuk angkutan sewa. Kenaikan tarif angkutan pariwisata otomatis akan menambah biaya paket tour dari biro perjalanan wisata (BPW) di Bali.

Selain itu, untuk setiap kenaikan komponen biaya tour termasuk biaya transportasi, mesti disampaikan jauh hari kepada biro perjalanan wisata (BPW). Ini dikarenakan, BPW menjual paket tour ini sudah beberapa bulan sebelumnya.

Dengan adanya dampak kenaikan biaya BBM akibat pencabutan subsidi BBM biaya paket tour ini juga wajib direvisi. Kenaikan biaya paket tour akibat kenaikan biaya transportasi secara mendadak ini, akan sangat dikeluhkan calon wisatawan. Peningkatan biaya paket tour juga akan mengurangi daya saing paket tour di Bali dengan paket tour kawasan wisata lain. Jika paket tour ini dijual terlalu mahal akan mengurangi animo wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Sementara itu, pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk kendaraan bermotor akan mengoptimalkan pemanfaatan angkutan Sarbagita di Bali yang telah dirancang pemerintah. Masyarakat juga bisa optimal menggunakan angkutan pariwisata untuk kegiatan tour /liburan, kegiatan persembahyangan, dan kegiatan upacara adat lainnya.

Selain itu, masyarakat yang sebelumnya menggunakan kendaraan bermotor atau kendaraan pribadi bisa memanfaatkan kendaraan umum. Ini termasuk mendorong pengoperasian angkutan pariwisata tidak hanya untuk transportasi wisatawan tetapi juga untuk transportasi masyarakat secara umum. Data jumlah armada bus pariwisata yang tercatat di Pawiba sebanyak 900 unit. Seluruh armada angkutan pariwisata ini bisa dimanfaatkan masyarakat lokal dan wisatawan untuk sarana transportasi untuk mengunjungi objek wisata, tempat persembahyangan termasuk keperluan lainnya.

Wisatawan Jepang yang berlibur ke Bali selama tiga bulan periode Januari-Maret 2010, tercatat 65.059 orang, turun 22,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 83.468 orang.

Meski mengalami penurunan cukup besar, Jepang tetap menempati urutan kedua terbanyak pemasok wisman ke Pulau Dewata setelah Australia. Kunjungan wisatawan Jepang dalam periode tersebut memberikan andil 11,54 persen dari total turis asing ke Bali sebanyak 563.778 orang.

Meski jumlah wisatawan Jepang ke Bali turun signifikan, namun total kunjungan turis asing selama tiga bulan pertama 2010 itu meningkat 14,95 persen dibanding periode sama 2009 hanya tercatat 490.450 orang.

Sementara jumlah masyarakat Jepang ke Bali selama 2009 tercatat 333.905 orang, berkurang 7,20 persen dari tahun 2008 sebanyak 359.824 orang.

Sementara itu, masyarakat Jepang dalam menikmati panorama alam serta keunikan seni budaya Pulau Dewata seluruhnya datang melalui Bandara Ngurah Rai, menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya. Tidak seorang pun yang datang lewat pelabuhan laut menggunakan kapal pesiar.

Dari sepuluh negara terbanyak pemasok wisman ke Pulau Dewata tahun 2009, tujuh negara mengalami peningkatan cukup signifikan dan tiga negara menurun. Tiga negara yang mengalami penurunan selain Jepang juga Korea Selatan, yakni 1,62 persen atau dari 28.865 menjadi 28.396 orang. Kemudian dari Malaysia berkurang 8,03 persen dari 29.954 menjadi 27.548 orang.

Tujuh negara yang mengalami peningkatan meliputi Australia 67,11 persen, Cina 3,92 persen, Taiwan 20,13 persen, Rusia 4,14 persen, Belanda 59,75 persen, Prancis 8,16 persen dan Jerman 23,96 persen.

Lesunya kunjungan wisatawan asing ke Gianyar, turut membuat para pedagang pernak-pernik, furniture, hingga kain khas Bali kelimpungan. Pasalnya, omzet yang didapatkan dari menjual produknya merosot.

Menurut penuturan sejumlah pemilik art shop, sepinya pembeli mulai dirasakan sejak pertengahan bulan Januari 2010 ini. Belum terjadi peningkatan transaksi yang cukup signifikan belakangan ini. Sejauh ini art shop masih sepi pembeli terutama dari wisatawan mancanegara. Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya jumlah transaksi belakangan ini masih lebih rendah.

Sepinya pengunjung, dikarenakan pertengahan bulan Januari-Mei merupakan masa low season atau bulan-bulan sepi pengunjung. Biasanya memasuki bulan Juni, wisatawan yang melakukan transaksi akan meningkat seiring ramainya kedatangan wisatawan asing ke Bali.
Selain itu, minimnya transaksi juga dialami oleh seorang pemilik galeri perak di Gianyar. Menurutnya, sepinya pembeli sudah dirasakan sejak krisis global melanda dunia. Diperkirakan, sepinya transaksi penjualan lebih disebabkan karena kualitas wisatawan yang datang mengalami penurunan.

Penurunan ini sudah biasa terjadi di bulan Mei. Ini diharapkan agar sepinya pengunjung tidak berlangsung lama. Selain itu, masa low season cukup membawa dampak penurunan transaksi yang dilakukan wisatawan. Pertengahan bulan Januari-Mei memang agak sepi, tapi bulan Juli, Agustus dan September yang merupakan musim high season kunjungan wisatawan, di mana kedatangan wisatawan ke art shop pun akan ikut melejit.

Lesunya tingkat kunjungan wisatawan juga dirasakan kalangan pengusaha hotel. Ketua PHRI Gianyar mengatakan, tingkat hunian hotel menurun 5 persen. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, turunnya tingkat hunian hotel sudah biasa terjadi di bulan Mei.

Promosi melalui media online atau internet, merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam menggaet wisatawan Prancis ke Bali. Pasalnya, 64 persen dari mereka memanfaatkan fasilitas internet untuk memilih akomodasi, pemesanan tiket pesawat, dan destinasi wisata yang akan dikunjungi.

Dilihat dari analisa pasar, wisatawan Prancis ternyata lebih banyak memanfaatkan media internet dalam menentukan rute perjalanan mereka. Selain, melalui ajang trade fair serta melalui iklan di beberapa majalah.

Adapun total outbound wisatawan Prancis adalah sekitar 35 juta orang dengan tujuan mengunjungi negara-negara yang memiliki wisata tropis seperti pantai atau populer dengan istilah sun and beach holidays. Masyarakat Prancis memperoleh hak libur yang dibayar (statutory paid holiday) selama lima minggu dalam setahun dengan bulan-bulan kunjungan (peak season) mereka ke Bali yakni Juli dan Agustus. Selain bulan April, September, Oktober dan November.
Selama di Bali wisatawan Prancis mengeluarkan uang rata-rata 105.20 dolar AS per orang. Dengan meningkatkan kualitas objek wisata yang menjadi favorit turis Prancis, diyakini Bali akan kebanjiran turis Prancis.

Selain itu, melihat tingginya pendapatan masyarakat Prancis, mereka memiliki peluang yang cukup besar untuk berlibur ke Bali. Bali juga sudah mendapatkan persepsi yang baik di mata wisatawan Prancis.

Dalam menyasar pasar Prancis, Bali memiliki pesaing di kawasan ASEAN seperti Cina, Vietnam dan Thailand. Karena itu, komponen masyarakat Bali perlu meningkatkan keamanan serta potensi pariwisata yang ada sehingga wisatawan asal Prancis ini bisa tetap datang ke Bali.

Sementara itu, Seorang pemilik Art Shop di Pasar Seni Kumbasari mengatakan, wisatawan Prancis yang datang ke Bali selalu menyempatkan diri singgah ke art-shop maupun pasar seni untuk membeli aneka aksesori dari perak.

Bahkan, memesan ratusan pasang perak untuk dijual kembali di negaranya. Bagi wisman Prancis ini, desain serta kualitas produksi lokal Bali jauh lebih bagus dan meyakinkan. Walau harganya lebih mahal dibandingkan produksi luar Bali.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menargetkan untuk menghadirkan 7 juta wisatawan mancanegara terancam tidak tercapai bila rencana kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) direalisasikan.

Kenaikan TDL akan sangat berpengaruh terhadap sektor hospitality, yakni perhotelan yang selama ini berada di garda terdepan dalam pelayanan kepada wisman. Selain itu, kenaikan TDL akan berpengaruh pada dua faktor penting yakni kemungkinan besar banyak hotel mengubah rate dan dilakukannya small saving alias penghematan di titik-titik tertentu.

Dengan naiknya TDL ini, jika hotel mengubah rate atau menaikkan harga kemungkinan besar banyak wisman yang lari, sehingga hotel harus mencari cara-cara untuk menutup biaya operasional yang membengkak akibat kenaikan TDL. Akan sangat sayangkan jika cara penghematan malah akan mengurangi tingkat kenyamanan wisman. Turis jelas bisa lari dan tidak tertarik untuk kembali datang ke Indonesia.

Misalnya, jika hotel mematikan pendingin ruangan (AC) pada jam-jam tertentu atau mengurangi penggunaan lift, otomatis kenyamanan tamu hotel akan terganggu.

Karena itu, diharapkan pemerintah untuk mempertimbangkan dengan baik rencana kenaikan TDL tahun ini karena efeknya akan sangat luas termasuk dalam hal target pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak hiburan, pajak hotel dan lain-lain.

Kenaikan TDL ini sangat diharapkan sekali untuk dipertimbangkan kembali, karena energy cost di sektor perhotelan itu penyerapan terbesarnya untuk konsumsi listrik. Dan biaya energi untuk hotel terbagi atas 75 persen untuk biaya listrik, 15 persen untuk solar dan 10 persen untuk air. Selain itu, untuk menaikkan rate sebuah hotel saat ini nyaris tidak dapat dilakukan mengingat tingkat hunian kamar makin rendah.

Diharapkan pemerintah mempertimbangkan secara matang rencana kenaikan TDL tersebut dan meminta dunia perhotelan melakukan penghematan secara sehat yang tidak mengganggu kenyamanan para tamunya.