Archive for the ‘Bali Tour’ Category
Peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 dan mulai berakhir krisis global pada tahun 2009, akan mendorong kunjungan wisatawan domestik (wisdom) dan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun 2010 ke Bali.
Ketua Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) Rabu (30/12) kemarin mengatakan, penambahan kunjungan wisatawan tahun 2010 akan berimbas pada peningkatan orderan angkutan wisata untuk melayani kegiatan tour wisatawan.
Dikatakan, tahun 2010 perekonomian masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah makin baik. Peningkatan ekonomi mendorong wisdom makin banyak berlibur ke Bali.
Dijelaskan, lancarnya pembuatan film “Eat Pray Love” yang dibintangi Julia Roberts di Bali memberikan bukti Bali aman dikunjungi. Wisatawan dunia akan makin yakin dengan keamanan Bali dan memilih berlibur ke Bali tahun 2010.
Ekspor produk pertanian, kerajinan. industri makin tinggi ke luar negeri. Para importir di luar negeri tentunya ingin melihat sentra-sentra produksi di Bali. Ini juga menjadi pendorong peningkatan kunjungan wisatawan dunia ke Bali.
Dipaparkan, makin tingginva kunjungan wisatawan ke Bali akan mendorong peningkatan pemanfaatan jasa angkutan wisata, akomodasi, pramuwisata, wisata bahari termasuk usaha pariwisata lainnya. Wisman banyak berkunjung ke Bali sehingga hotel dan restoran di Bali banyak menyerap hasil pertanian dan peternakan di Bali.
Tahun 2009 memang pariwisata Bali dihadapkan dengan imbas krisis global. Krisis tersebut memang tidak berpengaruh dengan jasa angkutan wisata di Bali. Salah satu contoh jasa angkutan wisata memauki perayaan akhir tahun umumnya mengalami over booking. Sementara khusus memasuki akhir tahun 2009 ini armada angkutan wisata di Bali yang melayani wisatawan hanya berada pada kisaran 90 persen dari total armada.
Ia meyakini tahun 2010 akan memberikan harapan baru bagi pengusaha angkutan wisata di Bali. Adanya pemutaran film “Eat Pray Love’ akan mendorong kunjungan wisatawan Amerika ke Bali. Di bagian lain, penambahan maskapai yang menawarkan rute penerbangan Eropa-Denpasar seperti KLM akan makin mendorong kunjungan wisatawan dari Eropa ke Bali tahun 2010.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan Eropa dan Amerika ke Bali akan memberikan gairah yang lebih besar pada jasa pariwisata di Bali termasuk jasa angkutan wisata.
Selain itu wisatawan dari India, Cina dan Jepang yang tidak terlalu besar kena pengaruh krisis global tahun 2009. Wisatawan dari ketiga negara tersebut juga akan makin banyak berlibur ke Bali.
Armada angkutan wisata yang tercatat di Pawiba bus pariwisata mencapai 900 unit dan angkutan sewa Sebanyak 2.500 unit. Pada masa low season tahun 2009 armada angkutan wisata di Bali yang beroperasi berada pada kisaran 60 persen.
Ia juga menambahkan, wisatawan tahun 2010 akan mempengaruhi orderan angkutan wisata di Bali. Pada masa low season tahun 2010 kemungkinan orderan angkutan wisata akan meningkat dari angka rata-rata 60 persen meningkat menjadi 70 persen. Sementara 30 persen sisanya tidak beroperasi pada masa low season.
Tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke Bali terkait libur panjang Natal dan Tahun Baru, membuat sebagian biro perjalanan di Bali resah. Pasalnya, menjelang hingga sepekan pasca perayaan Tahun Baru, sebagian besar hotel dipastikan penuh.
“Biasanya kami mengalami kesulitan untuk mencari kamar hotel yang bisa dipesan di Bali, Terutama untuk kawasan Kuta, Sanur, Nusa Dua dan Ubud. Sebab, hampir tiap hotel berbintang maupun melati di kawasan pariwisata Bali terutama Kuta, Nusa Dua yang terletak di Badung hingga Denpasar dan Ubud rata-rata tidak ada yang masih memiliki kamar,” ujar seorang General Manager sebuah biro perjalanan di Kuta.
Turis domestik, menurutnya, rata-rata memilih menginap di hotel yang ada di kawasan Bali Selatan, jarang yang mau menginap di kawasan wisata Bali Utara dan Bali Timur seperti Karangasem dan Buleleng.
“Tahun lalu, banyak pesanan paket wisata dari tamu domestik yang terpaksa kami tolak lantaran tidak ada lagi penginapan yang bisa dibooking. Sebab. mereka hanya mau menginap di kawasan Badung dan Denpasar saja,” katanya.
Banyaknya wisdom yang merayakan hari libur Nataru di Bali, diakuinya, melonjak mencapai 50 persen dibandingkan hari-hari normal.
Banyaknya wisatawan domestik yang memilih merayakan libur Nataru di Bali juga diakui seorang Manager Marketing sebuah Hotel di Sanur.
Sejak memasuki libur Tahun Baru Hijriyah yang bertepatan dengan libur akhir pekan, tingkat hunian di hotel tersebut sudah mencapai 85 persen. “Tingkat hunian hotel untuk libur Nataru nanti sudah penuh.
Wisatawan yang menginap kebanyakan dari kalangan domestik. Mereka akan check out dari hotel setelah Tahun Baru,” katanya.
Anjing menggonggong kafiIah berlalu. Peribahasa tersebut rupanya tak berlaku bagi Ir. I Wayan Tama, SH. Sebab, ketika dulu hanya sebagai Ketua PHRI Kabupaten Karangasem apa yang disuarakan terkadang tak didengar pemerintah. Kini setelah menjadi anggota DPRD Karangasem, semuanya bisa didiskusikan dan kemudian bisa direalisasikan dengan baik. “Apa yang dibahas di Dinas Pariwisata kemudian dicocokan. Kalau sejalan dan untuk kepentingan rakyat akan disuport seratus persen. Sekarang bisa matching karena kami juga di legislative, katanya disela-sela penyelenggaraan Tulamben Jukung Race 2009.
Pria yang akrab disapa Tama mengakui, sampai saat ini pengembangan pariwisata di Kabupaten Karangasem belum merata. Pariwisata hanya maksimal di Karangasem bagian selatan saja, yaitu di daerah Candi Dasa. Sementara di bagian utara seperti Tulamben belum digarap maksimal. Padahal, sambungnya, daerah Tulamben sudah punya nama. Bahkan, keindahan di dasar laut Tulamben terbaik nomor empat di dunia. Kalau terumbu karang, kita bisa bersaing dengan Pemuteran di Singaraja. Sehingga paket-paket wisata tersebut bisa diarahkan ke wilayah timur untuk stay tiga night,” ujarnya.
Maka dari itu, Operation Manager Rama Candidasa Resort & Spa ini berharap untuk orang-orang yang senang dengan rekreasi bawah laut itu bisa dibawa ke kawasan timur. “Jadi tidak numplek di Kuta, Sanur dan Nusa Dua ,“ harapnya. Untuk itu, sambungnya, Karangasem ingin mengarah ke spiritual tourism dan tourism under water. Artinya, di Bali Timur akan mengembangkan aktivitas spiritual seperti yoga, meditasi dan tracking untuk wisata spiritual dan snorkeling, diving untuk tourism under water.
Lantas kendala yang dihadapi, dengan polos Tama mengakui masih banyak objek-objek dan infrastruktur yang perlu ditingkatkan. Misalnya jalan yang terlalu jauh (melingkar), kurangnya SDM dan para guide yang mampu menjelaskan objek dengan trik – trik khusus sehingga menarik pengunjung. “Dan event seperti Tulamben Jukung Race ini juga perlu diperbanyak. Kalau bisa Iebih banyak lagi untuk menunjang kepariwisataan Bali timur,” imbuhnya.
Kegiatan Maha Bhandana Prasadha 2009 bukan hanya menampilkan berbagai atraksi kesenian Iangka, numun juga membangkitkan suasana masa lalu Kota Denpasar yang indah dan penuh kenangan (sweet memory). Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar I Putu Budiasa mengatakan kendati temanya bersifat kenangan namun kegiatan ini dikemas dengan sangat mendalam dengan penuh pemaknaan potensi-potensi seni dan budaya unggulan Kota Denpasar masa lalu. “Semua kreativitas dan inovasi yang dilakukan bermuara pada program mendukung Denpasar sebagai Kota Kreatif,” ujar Budiasa.
Untuk menambah kesan suasana tempo dulu, juga ditampilkan mobil tua, motor tua, sepeda tua dan transportasi tradisional yaitu dokar. Tempat penyelenggaraan Old Town Memory dipilih tempat yang ada kaitan dengan sejarah Denpasar masa lalu yakni Inna Bali. Mengingat hotel ini sejak didirikan tahun 1927 belum pernah di pugar. Demikian pula orang-orang yang diundang juga sangat khusus. Tamu yang diundang pun special yakni wisatawan tua yang tau tentang masa lalu Kota Denpasar. Termasuk juga para konsulat di Bali.
Budiasa mengatakan acara ini betul-betul menggambarkan tempo dulu Kota Denpasar. “Melalui kegiatan ini tercipta hubungan yang harmoni antara orang asing dengan masyarakat dilandasi Semangat puputan Badung. Mudah -mudahan event semacam ini digelar tiap tahun agar mampu menarik minat wisatawan,”pinta Budiasa
Hans Smith yang hadir bersama isterinya Tonie Smith asal Massrheeze, Belanda mengatakan sangat terkesan dengan acara tersebut. Kendati sudah keliling seluruh Indonesia, keduanya mengaku Bali tetap yang terindah. Bahkan, mereka mengaku tiap tahun ke Bali dua kali. Bali merupakan rumah saya kedua,” ujarnya sambil tersenyum puas,” Ungkapnya menjelaskan kegiatan seperti ini menambah keinginannya untuk lebih lama tinggal di Bali. “Ini luar biasa untuk membangkitkan Old Memory,” imbuh Smith.
Denpasar Old Town Memory digelar pada, Sabtu (10/10) di Hotel Inna Bali dihadiri Walikota Denpasar lB Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Sekkot Denpasar MN Rai lswara, pejabat terkait dan para konsulat asing. Suasana tempo dulu semakin terasa ketika larut malam terus menyapa dan membawa para tamu seperti suasana tempo dulu saat jaman Belanda karena sebagian besar pengunjung orang asing.
Tak mudah menyelamatkan areal seluas 16 hektare ini. Salah satu tempat favorit pelancong dunia selama berlibur di Bali tersebut harus diselamatkan dengan tetrapot, senilai puluhan miliar. Hanya untuk 20-30 tahun saja.
Sebetulnya, kawasan Tanah Lot hanya sebagian kecil dari wilayah Desa Adat Beraban. Desa dengan 15 banjar adat ini memiliki 1.698 kepala keluarga (KK). Sekitar 99 persen penduduknya adalah beragama Hindu. Desa adat ini juga cukup luas. Melingkupi dua desa dinas, yakni Desa Beraban dan Desa Pandak Gede.Menurut Manajer Badan Otorita Obyek Wisata Tanah Lot (BOOWTL) Made Sujana, MM, luas kawasan Tanah Lot hanya mencapai 16 hektare saja. Selain PuraTanah Lot, di dalam kawasan obyek wisata ini juga terdapat sejumlah pura dan beragam fasilitas penunjangnya. Sedikitnya ada enam pura lagi yang tersebar dalam kawasan ini, yakni Pura Penataran, Pura Jro Kandang, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan dan Pura Pakendungan.
Selain itu, sejumlah sarana akomodasi wisata ini juga tersedia, seperti restaurant dan hotel. Meski demikian, tidak ada satupun tempat hiburan malam, macam tempat dugem dalam kawasan ini “ini kawasan suci, jadi kami tidak membutuhkan itu (tempat dugem),”jelas Sujana.
Saat ini, Tanah Lot memang sedang jaya-jayanya. Di tengah arus deras kunjungan yang selalu meningkat setiap tahunnya, ternyata eksotisme alam di obyek ini terancam. Gempuran ombak dan angin yang setiap hari menerjang cukup mengancam kelesetariannya. Pura luhur ini sedang mendapat tantangan dari alam yang setiap saat merusaknya.
Tidak ada angka tahun pasti, kapan Tanah Lot mulai mengalami abrasi. Namun, bila mengacu pada booming pariwisata Bali antara tahun 1970-an dan 1980-an, setidaknya di tahun itu sudah mulai ada perhatian soal kerusakan di pura ini. Tahun 1987, sudah ada kajian dan upaya menyelamatkan Tanah Lot dari ancaman abrasi.
Kepala Balai Wilayah Sungai BaliNusa Penida Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bali, Ir. Jro Nyoman Ray Yusha menyatakan, upaya
itu adalah dengan memasang tetrapod (beton pemecah gelombang) yang dipasang di Selatan Pura Tanah Lot Namun
keberadaan tetrapod ini sendiri justru cukup mengganggu pemandangan. Ini lantaran dipasang hingga terlihat di atas permukaan laut. Makanya, di tahun 1989, kembali dilakukan uji kelayakan. Dan hasilnya, di tahun 1992 tetrapod tidak berada di atas permukaan air laut lagi. Namun berada di bawahnya. Sehingga keasrian dari pemandangan Pura Tanah Lot tak rusak oleh penahan gempuran ombak itu.
Tak berhenti di sana, di Tahun 1998 juga kembali adanya penemuan untuk menjaga kelestarian Pura tersebut.. Yakni dengan melapisi tebing pura dengan karang buatan (artificial reef). Beruntung, upaya pelestarian terus dilakukan. Terakhir adalah dengan bantuan (utang) Pemerintah Jepang, melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar Rp 95 miliar. Jepang merasa ikut berkepentingan dengan kelestarian sejumlah obyek wisata di Bali, termasuk Tanah Lot. Pasalnya warga Negeri Sakura ini dikenal doyan melancong ke Pulau Dewata.
Dan utang sebesar itu, ada tiga pokok pekerjaan yang digarap dari Tahun 2000 hingga 2003 ini. Yakni membangun breaker water (pemecah gelombang) dengan menempatkan tetrapod. Upaya ini adalah untuk mengurangi kecepatan gelombang yang menghantam langsung ke dinding-dinding dan bibir-bibir pantai. Jika pemasangan tetrapod tepat di depan Pura, dengan proyek ini, tetrapod dijauhkan. Tetrapod yang digunakan juga lebih paten. Ada dua tipe, yakni tipe pertama seberat 6,3 ton sebanyak 4.411 buah, dan tipe kedua seberat 16 ton sebanyak 2.699 buah. Tetrapod ini dipasang memanjang hingga 182 meter dan lebar 70 meter. “Yang pertama kita pasang pemecah gelombang,” jelas Ray Yusha.
Selain itu, tebing pura yang setiap detik, menit, jam dan seterusnya terkikis karena gempuran gelombang, juga kembali dilapisi karang buatan mengelilingi tebing pura. .Karang buatan ini, disebutkan memiliki ketebalan hingga 30 sentimeter. Dan upaya mempercantik obyek ini adalah dengan landscaping (penataan kawasan). Baik tempat parkir dan taman, serta sarana penunjangnya.
Menurut Ray Yusha, upaya perlindungan terhadap Tanah Lot ini cukup efektif. Setidaknya, menurutnya lapisan batu karang buatan setebal 30 centimeter itu dapat bertahan antara 15 sampai 20 tahun. Bila di atas normal, di mana perhitungan teknis terkait kecepatan angin, gelombang, dan lainnya di atas prediksi awal, maka tidak menutup kemungkinan, pengikisan tebing akan lebih cepat. “Tapi sejauh ini masih dalam batas normal,” imbuhnya.
Upaya pelestarian ini berbanding lurus dengan tingkat kunjungan wisatawan ke Tanah Lot. Dan sangat mempengaruhi nasib ribuan warga yang menggantungkan hidup dari pura ini. Sujana menyebutkan, sedikitnya ada 3.000 orang yang memiliki akses langsung terhadap obyek yang dikelolanya ini. Disebutkan, untuk pegawai BOOWTL saja, ada 170 orang yang merupakan warga Beraban semua. Ditambah 460 pengusaha yang terdiri dari kios artshop, hotel, restoran, belum lagi pedagang asongan, seperti pedagang klepon, keramik, postcard, gambar,tatto, juga tukang foto. “Jumlahnya sekitar 3000 orang yang memiliki akses langsung,” jelas dia.
Selain itu, warga yang tak memiliki akses tidak Iangsung juga banyak. Seperti yang bekerja di sarana akomodasi wisata, macam hotel, restauran, di radius lima kilometer dari obyek wisata ini. Juga penyuplai barang kerajinan atau yag diperjual belikan di Tanah Lot ini. ”Angka pastinya, untuk yang tak berakses langsung kami memang nggak ada,” aku dia.
Secara umum, Bendesa Adat Beraban dr. I Wayan Arwata, MM, mengatakan 60 persen warganya memang masih berkutat dengan pertanian. Namun, tidak murni menjadi petani, biasanya juga nyambil sebagai buruh. Sedangkan, sisanya adalah sekitar 20 persen bergerak di bidang pariwisata. Dia mengakui, tidak semua tersedot secara langsung di kawasan Tanah Lot. Namun, multiflier efek dan magnet Tanah Lot inilah sebagian angkatan kerja dari warganya terserap. Baik di hotel, restauran atau sarana akomodasi wisata lainnya di Beraban.”Juga Sejumlah kerajinan tangan.” kata dia.
Memang, sarana akomodasi wisata di Beraban, tidaklah terlalu banyak, bila dibandingkan dengan Kuta. Untuk di kawasan Tanah Lot saja, hanya ada 3 hotel kelas melati. Yakni Hotel Dewi Sinta, Mutiara Tanah Lot dan Astiti Graha. Di tambah lima rumah makan atau restauran. Sedangkan, di luar kawasan itu jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Hanya ada satu hotel kelas bintang yakni Le Meridien, masih satu kawasan Bali Nirwana Resort (BNR) dengan 600 kamar. Walaupun tingkat hunian masih rendah, hanya mencapai 40 persen. Juga sejumlah villa yang tersebar di sana.
Kunjungan wisawatan ke Tanah Lot dari tahun ke tahun memang mengalarni peningkatan yang signifikan. Ini juga seiring dengan tingginya tingkat kunjungan wisawatan ke Bali. Selama menggunakan manajemen baru ini, dalarn tahun 2001 tercatat angka kunjungan 768.000, yang terdiri dari 679.534 atau 8,5 persen domestic dan 88.483 atau 11,5 persen wisatawan mancanegara. Bila dirata-ratakan, perharinya ada 2.104 orang pengunjung. Hal itu terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2002, kunjungan mencapai 782.416 atau per hari 2.143 pengunjung. Bila di sejumlah kawasan ini mengalami penurunan paska Bom Bali, 12 Oktober 2002, angka kunjungan ke Tanah Lot justru cukup mencengangkan. Lihat saja data kunjungan di Tahun 2003, yang justru melompat ke angka 830.092, atau 2.274 per hari. Dan Tahun 2004 jumlah kunjungan makin bikin geleng-geleng kepala. Angkanya sudah menyentuh 1.043.177 atau per hari 2.858 pengunjung. Persentase kunjungan antara wisdom dan wisman juga mengalami perubahan, yakni 63 banding 37. Pun di tahun selanjutnya, hingga tahun 2008, malah sudah mencapai 1.574.808 pengunjung. Itu artinya, per hari Tanah Lot dikunjungi wisatawan sejumlah 4.3 14 orang. Terdiri dari 954.368 wisatawan domestic dan 620.440 wisatawan mancanegara. Dan hingga Tahun 2009 ini, terhitung dari Januari hingga September sudah mencapi 1.391.030 pengunjung atau rata-rata per hari 5.058 pengunjung.
“Kunjungan terus meningkat. Padahal dengan kunjungan 8.000 orang per hari, itu sudah overload,” jelas Sujana. Dari data-data yang ada, tingkat kunjungan tertinggi berada di bulan Juni dan Juli. Ini terkait dengan libur sekolah. Sehingga wajar, bila pada bulan Juni 2008 lalu, ada 174.679 pengunjung. Dan Juli 2008 sebanyak 172.664 pengunjung. Selain dua bulan ini, bulan Desember dan Januari juga tak kalah ramai. Sedangkan, di bulan terendah biasanya berlaku di bulan Februari dan Maret atau September dan Oktober. Pada Februari 2008, misalnya. Kunjungan ke obyek wisata ini hanya mencapai 104.715.
Mencapai tingkat kunjungan yang tinggi seperti itu, tentu menimbulkan efek juga terhadap pengelolaan obyek wisata ini. Tak hanya efek positif, yakni menambah pemasukan, namun di sisi lain juga menjadi tantangan tersendiri. Di mana,infrastruktu rjuga harus memadai. Dan yang tak kalah pentingnya, kata Sujana, adalah memberikan pemahaman terkait masyarakat sadar wisata. Masyarakat Beraban khususnya harus memahami konsep wisata budaya ini. Terlebih pasti para pedagang, atau komponen lain yang berkecimpung secara langsung di kawasan obyek wisata. “Pemahaman masyarakat tentang sadar wisata ini sangat penting,” jelas Sujana.
Soal Bakrie Nirwana Resort, Bendesa Arwata menyatakan, memang keberadaannya sempat dipersoalkan. Meski demikian. secara ekonomi memang menguntungkan sebagian warganya yakni yang bisa bekerja di sana. Di samping itu. keuntungan lain adalah setiap ada kegiatan adat. BNR budaya Bali, yang menjadi taksu obyek wisata ini Apa merugikan Ditanya demikian, Arwata mengaku sampai saat ini tidak begitu.
Sedangkan, Sujana menanggapi, keberadaan BNR dengan 120 hektar, ini sedikit tidak memang membatasi perluasan kawasan wisataTanah Lot ke sisi Timur. “Kalau ke Timur sudah mentok,” kata dia.
Walau begitu persoalan kawasan masih bisa diatasi dengan perluasan ke bagian Barat. Salah satunya adalah dengan lahirnya Surya Mandala, di bagian Barat Pura Batu Bolong. Kembalinya Tanah Lot ke pangkuan Desa Adat Beraban, sedikit tidak memangkas gerak investor yang ingin menguasai Pura ini.
“Dilihat dari sisi bisnis, mungkin ada yang berkeinginan untuk menguasai Tanah Lot. Tapi itu tidak mungkin. Kami tidak akan menjualnya. Inikan Pura. Kami hanya ingin melestarikan dan mensucikan. Kalau nggak ada turis yang datang juga nggak apa-apa,” kata Sujana.
