Archive for the ‘Budaya Bali’ Category
Tabanan memiliki banyak objek wisata yang tidak kalah menariknya dibandingkan dengan daerah lainnya di Bali. Salah satunya objek wisata Jatiluwih, Penebel.
Objek wisata yang satu ini memang menjual keindahan alam, berupa terasering sawah. Di samping itu atraksi budaya juga memberikan andil yang cukup besar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Jatiluwih. Keindahan alam yang ditawarkan Jatiluwih memang tidak ada duanya di Bali. Bahkan, pengunjung sudah ditawarkan keindahan alam di kanan dan kiri jalan. Udara sejuk menyelimuti perjalanan begitu memasuki wilayah Kecamatan Penebel.
Atraksi budaya yang bisa dinikmati pelancong di Jatiluwih adalah dari proses pertanian dan mapag toya, ngendag, mengolah tanah, tanam padi, mebiyukukung, panen padi dan upacara lainnya. “Di samping itu, wisatawan juga bisa melihat aktivitas keseharian masyarakat setempat,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan, belum lama ini.
Karena dukungan potensi alam yang masih orisinil, atraksi trekking merupakan aktivitas yang sangat bagus dinikmati wisatawan. Sambil melakukan trekking pelancong bisa menikmati alam Jatiluwih yang masih perawan, sambil menikmati berbagai aktivitas masyarakat setempat.
Yang tidak kalah menariknya dari pemandangan di Jatiluwih adalah masih dipertahankannya padi lokal dan budi dayanya masih menggunakan pupuk organik. “Kondisi ini juga sangat menarik minat wisatawan untuk datang ke Jatiluwih,” katanya.
Bagi wisatawan yang memang menyukai objek wisata alam pegunungan, katanya, Jatiluwih merupakan pilihan yang sangat pas. Di samping itu menu makanan dan minuman yang ditawarkan kepada wisatawan juga masih sangat natural, sehingga wisatawan tidak usah ragu terhadap menu yang ditawarkan masyarakat setempat. “Semua menu makanan yang ditawarkan di Jatiluwih sangat aman dan nyaman untuk dinikmati,” katanya.
Sambil duduk dan menikmati menu makanan di sebuah warung kopi di kawasan, Jatiluwih, pelancong bisa menikmati keindahan sawah berteras di Jatiluwih. Pelancong bisa datang ke Jatiluwih pagi atau pun sore hari, karena aktivitas masyarakat setempat hampir sehari penuh di sawah.
Terjadinya kembali peristiwa tidak menyenangkan terhadap turis Jepang, dikhawatirkan akan berdampak kurang bagus bagi pertumbuhan sektor pariwisata, termasuk berkurangnya pelancong asal negeri Sakura itu ke Bali di masa mendatang.
“Masyarakat Jepang sensitif terhadap peristiwa seperti ini, apalagi ada pembunuhan yang menimpa rekannya. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata seorang pengusaha perhotelan di Ubud, Senin (28/12) lalu.
Seorang turis asal Jepang ditemukan tewas dengan kondisi penuh luka di rumah kontrakannya di Kuta, Sabtu (26/12) malam. Sebelumnya, pada September 2009, juga seorang turis asal Jepang (33) yang tengah berlibur ke Bali ditemukan tewas di tanah kosong di Jalan Mertanadi Kuta.
“Bali dijuluki Pulau Surga oleh masyarakat internasional, tapi kemudian di sini terjadi peristiwa yang menyedihkan seperti halnya dialami kedua turis asal Jepang itu. Ini jelas akan berpengaruh negatif,” katanya.
Apalagi, katanya, masyarakat Jepang paling takut terhadap peristiwa-peristiwa duka. Selama ini mereka paling tidak berani jika diajak untuk menyaksikan upacara pembakaran mayat atau ngaben di Bali.
Peristiwa pemboman di Jakarta beberapa bulan lalu dan terorisme lainnya di Indonesia sudah memberikan dampak kurang bagus bagi sektor pariwisata di Indonesia, apalagi peristiwa akhir tahun di Bali menimpa langsung turis Jepang.
“Dengan adanya aksi terorisme beberapa waktu lalu, jumlah turis Jepang yang berlibur ke Pulau Dewata, umumnya anak-anak muda sudah berkurang. Tamu Jepang yang menginap agak berkurang dari tahun sebelumnya,” katanya.
Data di Dinas Pariwisata Daerah Bali menunjukkan turis Jepang ke Pulau Dewata selama Januari hingga Oktober 2009 hanya 281.458 atau turun 9,14 persen jika dibandingkan periode yang sama 2008 yang mencapai 309.788 orang.
Selasa (8/12) Museum Bali memperingati HUT ke-77. Museum yang dibuka oleh Belanda pada 8 Desember 1932 ini, selain menjadi sarana pelestarian warisan budaya, juga telah membuka ruang dialog budaya leluhur yang sangat berharga bagi pewarisnya dewasa ini.
Berdasarkan catatan sejarah, pada permulaan abad ke-20, Belanda telah menjajah Bali setelah menghadapi perlawanan yang sangat heroik, di antaranya dalam Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908). Pihak Belanda mungkin mulai berhitung bahwa dengan menguasai Bali yang mempunyai kekayaan budaya yang sangat unik, berarti Belanda telah membuka peluang yang amat besar bagi bangsa-bangsa Eropa untuk mengunjungi Bali, baik sebagai pedagang maupun sebagai wisatawan, dan lain-lainnya.
Tentu saja mereka mempunyai kepentingan yang sangat beragam, yang kemudian dapat memberikan dampak baik kepada kelestarian kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bali. Sejak itu, pihak Belanda mulai merasa ketakutan jika nanti hubungan masyarakat Bali dengan para pendatang dari Eropa yang mempunyai latar belakang sosial-budaya berbeda akan dapat mengakibatkan terjadinya pemiskinan atau kerusakan budaya Bali. Agaknya, Belanda tak ingin jika sekiranya Bali menerima dampak buruk semacam itu dan Belanda tidak mau kehilangan Bali.

Museum Bali Obyek Wisata Kota Denpasar
Akhirnya, melalui kerjasama ini diputuskan untuk membangun sebuah museum dengan meracik bentuk-bentuk arsitektur pura dan puri, seperti yang dapat disaksikan dewasa ini bediri tegak di pusat Kota Denpasar.
Kukuhkan Vibrasi
Pembangunan museum ini memang mendapat bantuan dari raja-raja Bali, yaitu berupa bangunan gedung-gedung untuk keperluan pameran yang disebut Gedung Tabanan, Gedung Karangasem dan Gedung Buleleng sesuai dengan nama-nama penyumbangnya, yang sekaligus juga mewakili gaya arsitektur Bali Selatan, Bali Timur dan Bali Utara. Gedung-gedung ini dengan segala kelengkapannya, seperti Bale Bengong, Bale Kulkul, candi bentar dan candi kurung telah mengukuhkan vibrasi budaya museum yang menyimpan sejumlah besar karya-karya budaya masyarakat Bali.
Lokasi museum ini memang memancarkan kekuatan budaya Bali karena letaknya berdampingan dengan Pura Jagatnatha, Monumen Puputan Badung dengan tamannya sebagai warisan sejarah yang monumental. Kharisma kultural juga datang dari Catus Patha dengan patung Brahma Catur Muka dan lain-lainnya, yang secara keseluruhan menjadi kawasan cultural heritage yang penting.
Pembangunan Museum Bali ternyata tidak bebas dari berbagai kesulitan, antara lain dalam pembiayaan. Sehingga, museum ini baru dapat dibuka untuk umum pada 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum di bawah asuhan Yayasan Bali Museum. Dalam perkembangan selanjutnya, pada 1966 Bali Museum diserahkan kepada Pemerintah Pusat, yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu, ketika otonomi mulai dilaksanakan, museum ini diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Provinsi Bali dan sekarang menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan.
Walaupun museum ini telah mengalami perubahan, tetapi segala kegiatan dapat dijalankan seperti biasa dan hingga dewasa ini telah tercatat 14.209 koleksi benda budaya dan 1.000 buah di antaranva dipajang dalam pameran gedung-gedung Tabanan, Gedung Buleleng dan Karangasem. Kenvataan ini menunjukkan bahwa sebagian besar koleksi masih disimpan di dalam ruang penyimpanan yang patut mendapat perawatan sebagaimana mestinya supaya terhindar dari kerusakan yang tidak diharapkan.
Museum Bali, tentu tidak berbeda dengan museum-museum lainnya, adalah salah satu institusi kebudayaan yang mempunyai posisi yang penting dalam pembangunan, khususnya dalam pembangunan kebudayaan, baik dalam skala nasional maupun dalam skala lokal (daerah). Posisi semacam ini, ke depan tampaknya akan menjadi semakin penting dan patut mendapat perhatian yang serius karena derasnya arus budaya global yang tidak lagi terhalang oleh kesulitan-kesulitan geografis berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi transportasi, informasi dan komunikasi.
Sosio Kultural
Dalam pembangunan Bali, terutama dalam pembangunan pariwisata budaya, Museum Bali menyandang fungsi sosio kultural yang sangat penting, karena kebudayaan adalah satu-satunya kekayaan Bali yang tidak ternilai harganya, yang telah ditetapkan menjadi modal utama seluruh pembangunan Bali. Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian adalah Bali berada di tengah-tengah gemuruhnya pengaruh budaya global yang tidak mungkin dihentikan. Di samping itu, perlu juga dicermati baik-baik bahwa Bali sudah tidak homogen lagi, tetapi sudah berjalan menuju masyarakat multikultural, sebagai kampung dunia atau desa internasional.
Barangkali tidak berkelebihan jika dikemukakan fungsi yang disandang oleh Museum Bali antara lain, sebagai wadah penyelamatan, pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya dan nilai-nilai yang dikandungnya, sebagai pusat dokumentasi karya-karya budaya unggulan (masterpiece), menjadi pusat studi karya-karya budaya yang mengandung berbagai informasi, pesan-pesan dan simbul-simbul kehidupan masyarakat. Juga, sebagai sarana pendidikan, terutama bagi generasi muda dalam upaya nation and character building untuk membangun masa depan berbasis sejarah sendiri, menjadi tujuan wisata sebagai tempat rekreasi (tamasya ke masa silam), media dialog budaya atau di plomas budaya antar bangsa untuk membangun dunia yang damai dan bersahabat, dan untuk menggugah inspirasi dan kreativitas para budayawan atau para seniman.
Harus diakui bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini pendidikan di Indonesia mencapai kemajuan yang pesat seperti yang tampak di daerah Bali. Sejumlah sekolah telah berpacu untuk meraih standar internasional dengan konsentrasi mata pelajaran eksakta, sehingga mata pelajaran sosial atau noneksakta seperti sejarah daerah atau sejarah kebudayaan daerah, bahasa daerah (Bahasa Bali) tampaknya kurang diperhitungkan sebagai unsur-unsur penting untuk menghasilkan pemuda-pemuda atau generasi muda yang cerdas, terampil dan maju, tetapi memiliki basis sosial-budaya dan sejarah nenek moyangnya sendiri.
Baru-baru ini, ada juga berita dan surat kabar lokal bahwa ada beberapa sekolah di Denpasar yang berniat memasukkan muatan lokal ke dalam kurikulum sekolahnya. Pemikiran semacam ini memang patut dihargai dan dipertimbangkan secara cermat. Dalam hal ini, barangkali Museum Bali dapat turut serta dalam pengisian muatan lokal seperti sejarah kebudayaan daerah Bali dan lain-lainnya. Barangkali dalam usia 77 tahun Museum Bali, pemikiran mengenai muatan lokal dapat dicermati bersama semua pihak sebagai salah satu upaya melestarikan kebudayaan Bali ke depan.
Kegiatan Maha Bhandana Prasadha 2009 bukan hanya menampilkan berbagai atraksi kesenian Iangka, numun juga membangkitkan suasana masa lalu Kota Denpasar yang indah dan penuh kenangan (sweet memory). Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar I Putu Budiasa mengatakan kendati temanya bersifat kenangan namun kegiatan ini dikemas dengan sangat mendalam dengan penuh pemaknaan potensi-potensi seni dan budaya unggulan Kota Denpasar masa lalu. “Semua kreativitas dan inovasi yang dilakukan bermuara pada program mendukung Denpasar sebagai Kota Kreatif,” ujar Budiasa.
Untuk menambah kesan suasana tempo dulu, juga ditampilkan mobil tua, motor tua, sepeda tua dan transportasi tradisional yaitu dokar. Tempat penyelenggaraan Old Town Memory dipilih tempat yang ada kaitan dengan sejarah Denpasar masa lalu yakni Inna Bali. Mengingat hotel ini sejak didirikan tahun 1927 belum pernah di pugar. Demikian pula orang-orang yang diundang juga sangat khusus. Tamu yang diundang pun special yakni wisatawan tua yang tau tentang masa lalu Kota Denpasar. Termasuk juga para konsulat di Bali.
Budiasa mengatakan acara ini betul-betul menggambarkan tempo dulu Kota Denpasar. “Melalui kegiatan ini tercipta hubungan yang harmoni antara orang asing dengan masyarakat dilandasi Semangat puputan Badung. Mudah -mudahan event semacam ini digelar tiap tahun agar mampu menarik minat wisatawan,”pinta Budiasa
Hans Smith yang hadir bersama isterinya Tonie Smith asal Massrheeze, Belanda mengatakan sangat terkesan dengan acara tersebut. Kendati sudah keliling seluruh Indonesia, keduanya mengaku Bali tetap yang terindah. Bahkan, mereka mengaku tiap tahun ke Bali dua kali. Bali merupakan rumah saya kedua,” ujarnya sambil tersenyum puas,” Ungkapnya menjelaskan kegiatan seperti ini menambah keinginannya untuk lebih lama tinggal di Bali. “Ini luar biasa untuk membangkitkan Old Memory,” imbuh Smith.
Denpasar Old Town Memory digelar pada, Sabtu (10/10) di Hotel Inna Bali dihadiri Walikota Denpasar lB Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Sekkot Denpasar MN Rai lswara, pejabat terkait dan para konsulat asing. Suasana tempo dulu semakin terasa ketika larut malam terus menyapa dan membawa para tamu seperti suasana tempo dulu saat jaman Belanda karena sebagian besar pengunjung orang asing.
Dengan penuh semangat, seniman-seniman muda usia itu menunjukkan kepiawaiannya berolah seni dan berusaha tampil paripurna untuk menjadi yang terbaik. Sebagai langkah awal, kegairahan generasi muda Bali mengikuti Parade Janger Bali itu mengembuskan angin segar bagi upaya pelestarian kesenian yang popularitasnya makin meredup di jagat seni pertunjukan Bali tersebut. Harapan pun bersemi, perhelatan seni yang mendapat apresiasi cukup positif dari kalangan pelajar dan pendidik itu mampu menjadi pembuka jalan bagi kelahiran sekaa-sekaa Janger baru. Paling tidak di kalangan pelajar Bali yang notabene merupakan generasi pewariis dan penerus kejayaan seni budaya Bali.
Ketua Panitia I Made Sueca tidak menampik bahwa gelaran Parade Janger Bali itu mengemban misi khusus. Di samping memberikan ruang yang lapang bagi generasi muda Bali untuk berkreativitas, kegiatan ini merupakan aksi nyata dari komitmen Kelompok Media Bali Post (KMB) terlibat aktif dalam upaya-upaya pelestarian seni budaya Bali.
Misi Pelestarian
Kenapa kesenian Janger yang dipilih? Pertimbangannya, kesenian yang sempat menjejak puncak popularitas-nya di era 1930-an hingga menjelang tragedi berdarah G30-S/PKI ini makin memudar pesonanya. Bahkan, terkesan mulai “ditinggalkan” oleh penikmat seni di Bali, Harus diakui, pentas Janger kini tak lagi semarak. Kehadiran Sekaa-sekaa Janger di perhelatan-perhelatan penting seperti perayaan hari ulang tahun instansi pemerintah/swasta maupun pada event sosial-kemasyarakatan lainnya di Bali bisa dihitung dengan jari.
Bahkan, kehadiran Janger di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) yang “kemasan” programnya diklaim mengedepankan misi pelestarian dari pengembangan seni budaya Bali, kesenian ini sering diposisikan sekadar numpang lewat. Dengan kata lain, tidak ada jaminan kesenian Janger pasti dimunculkan dalam setiap perhelatan PKB “Parade Janger Bali ini memang mengedepankan misi pelestarian. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka mata generasi muda Bali khususnya kalangan pelajar, bahwa mereka memiliki kesenian yang sangat atraktif bernama Janger,” kata Sueca.
Ia menambahkan, bukan tanpa alasan jika pihaknya memilih “format” janger malampahan (dilengkapi dengan fragmentari – red) pada Parade Janger Bali tersebut. Pemilihan lakon yang bersumher dari epos Mahabharata dan Ramayana sebagai “pemanis” Janger juga dilakukan dengan penuh pertimbangan. Pasal-nya, perhelatan seni itu sekaligus difungsikan sebagai media untuk menabur tuntunan hidup kepada para pelajar yang kebetulan menyaksikan pementasan itu.
“Sejatinya, banyak sekali nilai positif dan tuntunan hidup yang bisa dipetik dari adegan-adegan cerita Mahabharata dan Ramavana tersebut. Sampai kapan pun, intisari cerita Mahabharata dan Ramayana tetap kontekstual diaktualisasikan dalam rangka menuntun kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Saya berharap, generasi muda Bali yang kebetulan menyaksikan janger malampahan ini tidak hanya sekadar menonton, tetapi,juga tergerak untuk meresapi nilai-nilai positif yang terkandung di dalam alur cerita itu untuk Selanjutnya mengaktualisasikannva dalam aksi nyata,” tegasnya.
Tempat Ideal
Pengamat sekaligus praktisi pertunjukan Bali, Kadek Suartaya, juga merespons positif Parade Janger Bali yang digelar KMB. Dikatakannya, pemilihan segmen pelajar sebagai peserta parade dinilainya sangat bijaksana. Apalagi, kegiatan ini memang diposisikan untuk menggelorakan misi pelestarian seni budaya Bali sekaligus menabur tuntunan hidup bagi generasi muda Bali.
“Jenjang pendidikan formal merupakan tempat yang sangat ideal untuk menggelorakan misi pelestarian itu Pasalnya, di lembaga pendidikan formal itulah berkumpul generasi-generasi muda Bali yang merupakan agen-agen pelestari, pengembangan, penjaga dan penerus kejayaan seni budaya Bali. Sebagai orang berkecimpung di dunia seni, saya berharap KMB secara kontinu menggelar event seperti ini. Parade Janger Bali ini merupakan awal yang baik dalam membangkitkan kesenian Janger yang saat ini popularitasnya tengah terpuruk,” katanya.
Suartaya yang juga dipercaya sebagai Ketua Tim Juri Parade Janger Bali menambahkan, pihaknya sangat antusias menyaksikan atraksi seni yang ditampilkan sekaa-sekaa Janger muda usia tersebut. Ditegaskan, penampilan mayoritas sekaa Janger yang mengusung bendera sekolahnya masing-masing sanggup mengembuskan napas pembaruan yang membuat kesenian Janger sangat potensial untuk kembali ”dilirik” oleh kalangan generasi muda.
“Sejatinya, kesenian Janger yang sejak awal kelahirannya memang diformat sebagai tari pergaulan kaum muda memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Namun, para praktisi yang terlibat di dalamnva wajib melakukan serangkaian inovasi dan meningkatkan kreativitasnya sehingga kesenian ini tetap memiliki vitalitas dan menggebrak jagat kesenian di era kekinian. Salah satu siasat yang bisa dilakukan, memperkaya elemen cerita pada janger malampahan, memperbanyak variasi lagu dan gerak tari, termasuk melakukan pembaruan pada kostum dan aspek pemanggungan sepanjang tidak menghilangkan jati diri dari Janger itu sendiri. Harus diingat, Janger bersifat fleksibel sehingga pengembangan kreativitas dan inovasi bukan merupakan hal tabu,” tegasnya.
Memotret Bali ternyata memang tidak ada habisnya. Para kreatif pun tidak henti-henti mengabadikannya dalam beragam bentuk seni. Rempah-rempahan Bali tetap memiliki nilai, dan spirit yang tidak akan pernah habis.
Begitulah para perancang busana pun tak henti-henti mereguknya dalam balutan busana yang memancarkan kekaguman mereka pada Bali.
Seperti tak ada usainya menuturkan keindahan Pulau Bali melalui foto, lukisan maupun lewat televisi. Keindahan pesona alam dan budaya Bali seolah memang tak pernah pudar dan harus tetap dilestarikan dan dijaga agar generasi penerus dapat menikmatinya pula.
Begitulah kira-kira tujuan sekelompok Perancang Busana Kreatif Bali yang telah menampilkan koleksi mutakhir bernuansa Bali pada pergelaran Rabu lalu, di Kharisma Ballroom Discovery Kartika Plaza Hotel yang bertajuk “Bali In Fashion 2009”.
Pergelaran busana yang melibatkan sekitar 100 pragawan dan pragawati papan atas Bali, dengan koreografer Nugie ini menampilkan tak kurang dari 250 set busana jadi, koleksi dari 15 perancang mode Bali berbakat. Mereka adalah Elice Seymour, Nandie Amidarmo, Raphael, Yono, Tude Togog, Anak Agung Mayun, Putu Aliki, Ali Charisma, Eny Ming, Oka Diputra, Raden Sirait, Manus Ismanan, Alfi Rahman, Jonathan OGarr dan Ramadhani.
Simaklah koleksi para perancang tersebut di sini. Umumnya mereka menggunakan bahan dalam negeri yang diproses sedemikian rupa sehingga sangat wearable, trendy dan sarat dengan pernak- pernik yang semuanya dibuat di Bali.
Berbagai unsur Bali nampak pada olahan motif ikat, perada, batik colet. print maupun batik modern yang bermotifkan Bali dengan warna warni khas Bali seperti warna alam, lembayung Bali, hitam putih sampai pada warna emas dan perak.
Nandie Amidarmo selaku ketua pelaksana peragelaran yang untuk kedua kalinya ini menjelaskan, tujuan utama dari acara ini selain untuk melestarikan peninggalan leluhur Bali, juga menggalang persatuan sesama perancang busana kreatif Bali, agar terus bersatu dan berkarya bersama tanpa harus meninggalkan unsur tradisi yang ada. Sehingga suatu saat Bali akan menjadi salah satu kota mode di dunia yang mempunyai karakter sendiri. Kita harap suatu masa tujuan itu bisa terwujud.
Anda bisa menikmati suguhan rancangan para desainer itu minggu ini. Tetap gaya dan elegan.