Archive for the ‘Pariwisata Bali’ Category

Industri menilai bahan promosi pariwisata Bali 2010 harusnya di-review. Bahan promosi tiap tahun tidak harus sama karena tren dan pasar pariwisata dunia terus berubah.

Dalam membuat perencanaan harus ada evaluasi. Bahan promosi 2010 yang sudah ditetapkan pemerintah tampaknya sudah tidak bisa diubah lagi. Semua bahan sudah ditentukan oleh pemerintah. Namun, pihak dinas menyatakan akan menyampaikan secara tertulis.

Selain itu, bahan promosi seharusnya disesuaikan dengan segmen yang ingin disasar. Bahan promosi untuk jurnalis tentu berbeda dengan bahan promosi untuk konsumen dan berbeda juga bahannya untuk para whole seller. Ini harus jelas, mana market yang mau digarap.

Bali tahun 1930 merupakan destinasi pariwisata umum. Namun, saat ini Bali sudah mengalami perubahan segmentasi. Konsep pariwisata Bali adalah budaya. Tapi harus disadari Bali juga sudah menjadi destinasi MICE, wedding yang memerlukan kemasan berbeda tanpa meninggalkan konsep.

Banyaknya wisatawan mancanegara (wisman) yang melangsungkan bulan madu atau ( honeymoon ) di Bali, membuka peluang bisnis bagi para pengusaha vila di Bali. Bahkan, usaha yang mampu memberikan privasi lebih ini sepanjang tahun tak mengenal musim.

”Menawarkan paket honeymoon merupakan tren di kalangan pengusaha vila di Bali untuk menunjang pendapatan. Pasalnya, paket ini ditawarkan tanpa mengenal musim,” ungkap General Manager sebuah Villa di Seminyak, Kuta belum lama ini.

Ia mengatakan, tiap tahun ada ratusan pasangan asing yang baru menikah dan berbulan madu di Bali. Mereka datang dari berbagai belahan dunia terutama dari kawasan ASEAN seperti Korea dan Singapura. “Paket bulan madu biasanya ditawarkan pada bulan April, Mei, Juni, Agustus, September, Oktober, dan November.

Menurutnya, paket honeymoon ditawarkan lebih mahal dua kali lipat dari harga normal, dikarenakan long of stay mereka jauh lebih lama. “Harga paket yang ditawarkan sudah termasuk transport, guide services , biaya makan siang serta makan malam,” katanya.

Seorang pengelola event organizer juga mengakui, Bali sebagai pilihan favorit wisatawan untuk melangsungkan bulan madu. “Tak hanya wisatawam asing seperti Jepang, Korea, dan Australia saja yang meminati paket bulan madu di Bali, namun banyak dari kalangan orang terkenal di Indonesia seperti artis ibu kota dan pengusaha yang juga melangsungkan bulan madu mereka di sini,” katanya.

Selain melangsungkan bulan madu, tak jarang wisatawan asing maupun orang berduit yang melangsungkan upacara pernikahan dengan memakai pakaian pengantin tradisional Indonesia, khususnya Bali. “Sebulan lebih dari 45 paket wedding yang laku dijual, jika kedua paket ini dapat terus ditingkatkan dan dikelola dengan baik, akan dapat meningkatkan pendapatan berbagai sektor pariwisata. Sebab, paket ini sangat diminati wisatawan asing,” katanya.

Sebagian pengemudi angkutan taksi di Bali belakangan ini menerapkan argo tembak dan argo mulut (tanpa argo resmi) kepada penumpang tanpa menghitung beban biaya yang ditetapkan operator. Penumpang termasuk wisatan jadi korban. Perbuatan sopir taksi tersebut bisa merusak citra pariwisata Bali. Apa yang harus dilakukan?

Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Bali hingga saat ini cukup banyak memperoleh keluhan dari konsumen terhadap angkutan taksi di daerah ini yang menggunakan argo diluar aturan pemerintah (argo tembak dan argo mulut).

”Hampir setiap hari kami memperoleh keluhan dari masyarakat terhadap sopir taksi nakal, sehingga perlu diberikan tindakan tegas. Kami mengharapkan agar argo taksi di tera ulang secara berkala,” ujar ujar Ketua LPK Bali.

Pihaknya mengharapkan, Dinas Perhubungan (Disbub) Bali, melalui badan Metrologi melakukan tera ulang argo taksi secara berkala, karena banyak laporan merugikan masyarakat. Lanjutnya, tera ulang tersebut merupakan keharusan untuk dijalankan pemilik taksi. Karena sesuai dengan undang-undang perlindungan konsumen.

“Setiap alat ukur, takaran dan alat ukur lainnya wajib ditera ulang oleh badan Metrologi. Terlebih alat ukur yang dipergunakan untuk kebutuhan konsumen atau masyarakat,” ungkapnya.

Tera ulang argo taksi, katanya, minimal dilakukan setiap tiga bulan sekali, dan jika ditemukan ada permainan sepihak pada penetapan tarif, izin usaha taksi bisa dicabut dan pengemudi bisa dipidanakan.
“Tindakan pihak taksi yang melakukan penerapan tarif sepihak bisa diproses hukum, karena telah terjadi unsur penipuan,” jelasnya.

Pemerintah daerah melalui Dishub, harus tegas terhadap pemilik kendaraan taksi di Bali, agar tidak menimbulkan persoalan negatif bagi kepentingan daerah.

Dengan sistem argo tembak yang ada saat ini, katanya, sebetulnya masyarakat sudah sangat dirugikan, apalagi kebanyakan sopir taksi tidak menggunakan argo. Taksi yang tidak menggunakan argo tergolong kategori taksi gelap.

Selain itu, sistem taksi yang ada saat ini sudah seharusnya diperbaharui. Pasalnya, tidak jelasnya sistem penetapan ongkos taksi bisa berdampak kurang baik bagi dunia Pariwisata Bali.

Sementara itu, Ketua Koperasi sebuah Jasa Angkutan Taxi mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya tetap mengadakan tera ulang argo taksi secara berkala, yakni minimal 6 bulan sekali.
‘’Kami menerapkan sanksi tegas terhadap anggota yang terbukti melanggar aturan agar citra taksi tidak merosot di mata penumpang,” katanya.

Misalnya, tarif resminya mulai membuka pintu taksi Rp 5.000 dan tarif argonya Rp 4.000/km. “Hingga saat ini kami belum bisa menurunkan tarif, sebab tidak hanya harga BBM saja yang menentukan besaran tarif taksi, melainkan juga komponen lainnya seperti suku cadang yang harganya terus melambung, yakni rata-rata naik hingga 15 persen saat ini,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pengusaha angkutan taksi belakangan ini menghadapi situasi yang dilematis, sehingga masih bertahan dengan tarif lama.

Ia menegaskan, pendapatan sopir taksi belakangan ini sangat kecil. Persaingan di kalangan operator taksi juga makin ketat. Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya melakukan berbagai upaya agar tetap eksis di tengah persaingan yang ketat. Salah satunya, melakukan peremajaan taksi agar tetap prima dan tidak cerewet mesinnya, sehingga pelayanan kepada penumpang menjadi lebih baik.

Disinggung soal jumlah armada taksinya yang beroperasi saat ini, ia mengatakan, sekitar 1.000 unit, baik yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai maupun di luar bandara.

Transportasi jenis kendaraan sewa yang tempat duduknya di bawah 7 buah seperti Suzuki APV dan Mazda tipe 2000 sebanyak 502 anggota. Sementara itu, salah seorang sopir taksi mengatakan, banyak rekan seprofesinya mengeluh karena tidak bisa memenuhi setoran akibat persaingan makin ketat saat ini.

Pendapatannya terdongkrak hanya pada momen-momen hari raya besar keagamaan dan libur panjang, yakni mencapai Rp 125.000 – Rp 150.000 per hari.

“Pada hari-hari biasa, rata-rata kami hanya bisa narik 3 kali rate per hari. Kondisi ini berbeda dengan keadaan penumpang pada musim libur panjang dan hari raya, yakni bisa mencapai 6 kali rate per hari,” ungkapnya. Disinggung mengenai tarif, kata dia, sesuai argo Rp 4.000 per km.

Sejumlah angkutan wisata di Bali tidak mengantongi izin operasional. Dishub pun melakukan pemetaan sasaran penertiban termasuk pembentukan tim. Apa yang dilakukan?

Kadis Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (Dishubinfokom) Bali, mengatakan, angkutan wisata ilegal yang diindikasi marak di Bali meliputi angkutan pariwisata ilegal, angkutan sewa ilegal, dan taksi ilegal. Jumlah angkutan wisata ilegal tersebut cukup banyak sehingga perlu dipetakan penertibannya.

Pemetaan ini dilakukan untuk memfokuskan sasaran penertiban. Ini meliputi pembagian jadwal penertiban taksi ilegal, angkutan pariwisata ilegal dan angkutan sewa ilegal.

Dishub melakukan penertiban melibatkan tim yang terdiri atas aparat Dishub, PPNS, kepolisian, jasa raharja dan instansi terkait lainnya. Penertiban angkutan wisata ilegal tidak hanya dilakukan pada siang hari, tetapi juga dilakukan pada malam hari. Dishub Bali mengimbau seluruh pengusaha angkutan pariwisata, angkutan sewa operator taksi agar mematuhi aturan.

Penertiban dilakukan dengan melakukan pengecekan kelengkapan kendaraan meliputi buku kir (layak jalan), izin operasi (kartu pengawasan) yang dilakukan petugas Dishub. Sementara petugas dari kepolisian akan memeriksa surat-surat meliputi STNK dan SIM. Jasa Raharja akan memeriksa pembayaran iuran jasa raharja.

Kabid Perhubungan Darat, didampingi Kasi Keselamatan dan Ketertiban (Kastib) Dishubinfokom Bali, mengatakan penertiban angkutan pariwisata ilegal, angkutan sewa ilegal, dan taksi ilegal di Bali tidak bisa dilakukan secara bersamaan.

Ia mengungkapkan, penertiban angkutan wisata ilegal tidak bisa sepenuhnya dilakukan aparat Dishub Bali. Sesuai dengan UU RI No. 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 262 ayat 2 dinyatakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) wajib berkoordinasi dan harus didampingi oleh petugas kepolisian dalam menindak pelanggaran angkutan wisata di lapangan. Penertiban angkutan wisata ilegal ini mesti dilakukan secara terjadwal sehingga bisa melibatkan instansi terkait lainnya.

Ia mengungkapkan untuk tahap I Dishub bersama instansi terkait melakukan penertiban taksi liar. Sidak dilakukan 27-29 Januari 2010 menyasar wilayah Badung. Dari 50 taksi yang diperiksa, hanya 2 kendaraan yang belum mengantongi izin operasi. Taksi yang tidak berizin tersebut sudah ditindak dan dilarang beroperasi kembali.

Dishub juga telah melakukan sidak pada armada PT Praja Bali Transportasi. Perusahaan tersebut mengoperasikan taksi dengan atribut Blue Bird melanggar Kepmen Perhubungan 35 tahun 2003. Logo Blue Bird mesti diganti menggunakan logo Bali Taksi sesuai permohonan izin yang dilakukan PT Praja Bali Transportasi sebelumnya.

Ia mengakui, tim penertiban untuk angkutan pariwisata dan angkutan sewa masih sedang disusun. Akhir Februari ini kemungkinan SK tim akan keluar sehingga jadwal sidak angkutan pariwisata ilegal dan angkutan sewa ilegal segera bisa segera dilakukan.

Dishub Bali pada tahun 2009 sudah melakukan penertiban angkutan pariwisata ilegal dan angkutan sewa ilegal. Lokasi yang disasar di antaranya objek wisata Taman Ayun, Tanah Lot dan Goa Gajah. Di Taman Ayun mampu disasar 43 unit angkutan wisata ilegal dan 5 unit angkutan pariwisata ilegal.

lokasi Tanah Lot dijaring 32 angkutan sewa ilegal dan 3 angkutan pariwisata ilegal. Sementara di Lokasi Goa Gajah menjaring 21 angkutan wisata ilegal dan 3 angkutan pariwisata ilegal. Armada angkutan wisata baik angkutan sewa dan angkutan pariwisata yang berhasil dijaring sudah dilarang untuk beroperasi.

Ketua Organda Bali juga mengatakan penertiban angkutan wisata ilegal mesti dilakukan secara kontinyu. Ini memberikan efek jera kepada para operator yang menggoperasikan angkutan wisata ilegal.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 31 Desember 2009 lalu meluncurkan program tahun kunjungan museum atau visit museum year (VMY) 2010. Apa saja yang dilakukan?
Di Bali, ini upaya promosi pariwisata dan budaya bagi masyarakat agar keberadaan museum bisa lebih bermanfaat lagi belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah.

Hal tersebut terlihat dari minimnya anggaran dana pemeliharan maupun promosi museum periode 2010 dibandingkan periode sebelumnya.
Tercatat ada sekitar 30 museum yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Dari sekian banyak museum, beberapa museum di antaranya Museum Bali dan Monumen Perjuangan Rakyat Bali mengakui adanya penurunan jumlah anggaran dana pengelolaan museum yang diperkirakan mencapai 50 persen.

Monumen Perjuagan Rakyat Bali atau lebih dikenal dengan sebutan Bajra Sandhi misalnya. Meski berbelit-belit, dalam rangka menyukseskan VMY 2010, Pemprop Bali, diakui Kepala UPT Monumen Perjuagan Rakyat Bali, menganggarkan dana Rp 859 juta.

“Sejujurnya dana yang dialokasikan untuk operasional monumen tahun ini menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,6 milyar. Meski demikian, kami tetap optimis target retribusi yang ditetapkan Rp 331.900 akan tercapai,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Ia berencana menjalin kerja sama dengan pihak ketiga seperti instansi pendidikan, biro perjalanan serta sejumlah asosiasi yang berkembang di Bali.

“Sebetulnya belum ada program khusus yang akan dilakukan untuk meningkatkan minat masyarakat termasuk wisatawan mengunjungi museum.

Selain karena keterbatasan dana yang tersedia, kami hanya merancang beberapa kegiatan seperti lomba menggambar dan pameran lukisan dengan melibatkan pihak ketiga, baik itu biro perjalanan wisata (BPW) maupun sekolah-sekolah yang ada di Bali untuk mendukung program VMY 2010,” terangnya.

Minimnya dana yang tersedia di tengah program Visit Museum Year 2010 juga diakui UPTD Museum Bali.

“Dana yang disediakan untuk biaya operasional tahun ini memang mengalami penurunan, namun dalam rangka menyukseskan Visit Museum Year , kami akan melakukan beberapa sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat umum, melalui promosi di media cetak dan TV.

Selain itu kami juga menggelar beberapa kegiatan pameran lukisan, pertunjukan kesenian dengan menggandeng pihak ketiga,” ungkap Kasi Edukasi dan Prevarasi UPTD Museum Bali, seizin Kepala UPTD Museum Bali di Denpasar.

“Tahun 2010 target kunjungan ditingkatkan menjadi 113 juta pengunjung. Mudah-mudahan di tengah keterbatasan dana, melalui VMY 2010 kedatangan pengunjung bisa ditingkatkan,” tambahnya.

Turunnya anggaran dana pemeliharaan museum juga diakui Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi (Kadisbud) Bali. Meski terkesan menutupi, Ia mengaku, kecilnya anggaran dana operasional museum yang dikucurkan Pemprop Bali dikarenakan anggaran yang ada difokuskan pada pengentasan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan.

“Kecilnya dana yang dikeluarkan untuk pengelolaan museum seharusnya bukan menjadi masalah. Sebab, dengan penghasilan yang didapat dari kunjungan wisatawan sudah menutupi dana operasional yang dikeluarkan pihak museum,” ungkapnya.

Pihak pengelola museum, dikatakannya, harus mampu tumbuh dan berkembang tanpa disusui oleh pemerintah. Karena itu, pengelola museum diharapkan membuat suatu terobosan seperti menggelar workshop, merancang kegiatan-kegiatan yang tentunya tidak menyimpang dari konteks budaya dengan memanfaatkan fasilitas museum yang ada.

Terkait pedapatan tahun 2010, museum di bawah naungan Disbud Bali seperti Museum Bali, Museum Lemayur, dan Monumen Perjuangan Rakyat Bali ditargetkan mencapai Rp 790 juta.

Para investor yang ingin menanamkan modalnya di Bali, sebenarnya tidak mesti fokus pada pembangunan hotel. Ketua Asita Bali, Kamis (28/1) kemarin mengatakan, dana investor ini dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Bali.

Ia mengatakan, pembenahan infrastruktur ini sebagai penunjang pelayanan wisatawan ketika berlibur di Bali. Hotel khususnya di Bali Selatan bisa dikatakan over supply. Penambahan jumlah kamar atau pembangunan hotel baru mesti ditekan. Sebaliknya, kualitas kamar hotel mesti ditingkatkan. “Jumlah kamar jangan ditambah melainkan tarif kamar yang mesti ditingkatkan,” katanya.

Dijelaskan, peningkatan jumlah kamar umumnya tidak diiringi dengan peningkatan jumlah tamu yang menginap. Ini diharapkan investor tidak sepenuhnya terfokus pada penambahan jumlah kamar atau pembangunan hotel baru melainkan mesti melirik investasi pada infrastruktur pendukung pariwisata di Bali.

Dipaparkan, penambahan jumlah kamar hotel tidak seiring dengan penambahan pajak hotel dan restoran (PHR) yang bisa didapatkan dari wisatawan. Muncul pertanyaan apakah penambahan kamar hotel mencapai 2 kali lipat akan mendorong penambahan PHR pemerintah mencapai 2 kali lipat. Teori tersebut tidak bisa diterapkan, karena kamar hotel di Bali tidak sepenuhnya terpakai terutama memasuki masa low season.

Perda di Bali diharapkan bisa membatasi penambahan jumlah kamar hotel. Perda mesti mengarahkan pengelola hotel meningkatkan kualitas kamar sehingga bisa meningkatkan tarif kamar. Tarif kamar meningkat otomatis akan mendorong peningkatan PHR.

Menurutnya, jika penambahan kamar hotel ditekan maka jumlah penambahan karyawan bisa ditekan. Dengan jumlah kamar hotel dan karyawan yang cukup maka kesejahteraan karyawan (pekerja pariwisata) di Bali bisa ditingkatkan. “Jadi lebih banyak pendapatan yang bisa diterima wisatawan terutama ketika masa high season ,” katanya.

Ia menambahkan, investor bisa mengarah dana investasinya untuk penambahan infrastruktur pariwisata seperti listrik. Sektor pariwisata di Bali tidak terlepas kebutuhan listrik. Jika listrik padam atau Bali kekurangan listrik akan mengganggu aktivitas pariwisata. Penyediaan infrastuktur listrik ini akan sangat menunjang pengembangan sektor kepariwisataan Bali pada tahun-tahun mendatang.

Rekor peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali di tahun 2009, tentu meniupkan angin segar bagi pelaku bisnis ini. Dari target kunjungan 1,8 Juta terlampaui jadi 2,2 juta, hendaknya tidak membuat para pelaku pariwisata berpuas diri. Sebaliknya, keberhasilan itu justru harus menjadi cambuk untuk berupaya untuk peningkatan Iebih lagi. Strategi promosi dan diversifikasi atau pengembangan negara-negara pasar baru menjadi kunci untuk suksesnya target berikut.

Demikian tersirat dan rangkuman pendapat dari kalangan pelaku pariwisata dengan hati-hati berharap, semoga angka kunjungan 2009 itu benar, karena kenyataannya tahun 2009 tingkat hunian hotel-hotel di Bali justru menurun dibanding tahun 2008. “Jika memang benar, sudah tentu harus menjadi penambah semangat bagi pelaku wisata Bali,” ujarnya. “Tapi promosi harus tetap dilakukan meskipun angka kunjungan meningkat. Karena dari data perkiraan sementara tahun 2010 ini lebih lesu dibandingkan tahun 2009”.

Yang terpenting menurut pelaku pariwisat Bali ini, apapun jenis promosinya tentu memiliki tujuan baik. Namun yang lebih penting lagi kegiatan promosi sebaiknya dilakukan secara bersama-sama tidak saling bertentangan dari tumpang tindih, tapi lakukan secara bersinergi dan berkesinambungan.

Faktor kenyamanan wisatawan yang berlibur ke Bali juga kerap terganggu dengan adanya proyek-proyek pemerintah di saat-saat tamu ramai (proyek jalan, galian telkom dll). Di sisi lain kebersihan lingkungan di Bali masih sangat rendah. Penataan kota juga masih kalah jauh dibandingkan dengan kota-kota tujuan wisata lain di Asia. Pemasangan baliho-baliho yang memenuhi jalan dan menghalangi pandangan juga patut menjadi catatan penting.

Dari sisi marketing, sudah saatnnya pemerintah lebih bersifat sebagai pendorong dari belakang atas promosi yang dilakukan swasta.

“Pemerintah tidak perlu Iangsung terjun ke luar negeri melakukan promosi cukup memberikan dukungan melalui swasta. Biar swasta saja yang promosi ke luar”. Katanya. Sementara itu Pemerintah bagi harus lebih fokus pada penataan kedalam baik dari segi regulasi dan juga infrastruktur. Kedepan pengembangan wisata marie sebagai wisata alternative juga perlu diperhitungkan agar wisatawan memiliki pilihan yang lebih variatif.

Dari segi pasar, mereka semua sepakat bahwa di samping tetap mengelola pasar yang telah ada, seharusnya diupayakan diversifikasi pasar-pasar baru atau pengembangan lebih jauh agar warga semua negara-negara di dunia juga mau berkunjung ke Bali. Oleh karenanya besar harapan mereka Pariwisata sebagai sektor utama ekonomi Bali, harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat (pemerintah, swasta dan masyarakat). Ketiga komponen ini harus dapat bersinergi dengan baik, dari segi aturan, maupun pelaksanaan tanpa mengenyampingkan upaya pelestanian seni budaya yang menjadi roh dan daya tarik utama Bali.

Banyak kompetitor dan destinasi lain dimana produk mereka dikemas cukup menarik dengan harga yang kompetitif. Ditambahkan, bentuk promosinya bisa dengan mengikuti road show, table top, pameran baik di luar dan dalam negeri serta dari PR strategy. Promo website juga menjadi salah satu media promosi yang baik untuk market luar dan dalam negeri.

Dari sisi lain dikatakan, perbandingan dari kontribusi melalui pajak dan yang lainnya ke kas negara selama ini, kondisi fasilitas dan infrastruktur yang dibangun sangat tidak seimbang. Misalnya jika dilirik ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapore dan Thailand, fasilitas jalan kita masih sempit dan berlubang. Fasilitas telephone umum sangat tidak memadai, angkutan umum sama sekali tidak nyaman, apalagi toilet umum yang masih terbelakang. “Di sisi lain peningkatan meningkatkan pelayanan di Airport serta ketersediaan air dan energi listrik juga tak kalah pentingnnya,” katanya.

Wisata Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions (MICE) menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali, akan mendorong tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali periode 2010 hingga beberapa tahun mendatang. Ini terbukti, beberapa pertemuan berskala internasional akan kembali dilaksanakan di Bali.

“MICE selama 2010 ini saya kira cukup bagus. Indikasi yang jelas terlihat hingga belakangan ini, setiap penyelenggaraan wisata konvensi ke daerah kita, peminatnya melimpah, sampai dua kali lipat dibandingkan di tempat lain. Seperti pertemuan UNEP yang akan digelar Februari mendatang diperkirakan sekitar 5.000 peserta akan ikut ambil bagian,” katanya di Renon, Rabu (27/1) kemarin.

Seiring dengan kian kondusifnya situasi keamanan di Bali, diungkapkan ketua disparda Bali ini, kondisi kepariwisataan Bali juga berangsur pulih. “Kami optimis dengan adanya event-event besar, target kunjungan 2,3 juta wisatawan akan tercapai. Terlebih, jika melihat tren peningkatan wisatawan saat ini. Di mana tren kedatangan wisatawan pada Januari ini menunjukkan 6.200 wisatawan per hari dibandingkan Januari tahun lalu yang hanya mencapai 4.000 wisatawan per hari,” katanya.

Manager Marketing sebuah Hotel di Bali, juga mengakui, kegiatan MICE yang digelar di Bali sangat mendongkrak tingkat hunian hotel di Bali.
“Minat perusahaan multinasional, BUMN dan ekspatriat untuk melakukan meeting dan incentive tour ke kawasan wisata di Bali sangat tinggi. Terbukti, selain tingkat hunian hotel yang masih stabil, jadwal meeting yang dilakukan pihak instansi pemerintahan maupun swasta juga terus berjalan,” katanya.

Menurutnya, order-order MICE sangat ditentukan oleh pendekatan personal khususnya dengan agen MICE tertentu. Tak ketinggalan melakukan salles call ke pemerintah serta fleksibilitas dalam mengakomodasi permintaan event organizer.

“Selain itu, dari segi revenue grup MICE sangat tinggi, spending money wisatawan MICE bisa 10 kali lebih besar daripada wisatawan biasa. Pasalnya, wisatawan MICE pasti memakai kamar, menikmati F & B dan tentu saja ruang meeting,” katanya.

Keramahtamahan masyarakat dan lingkungan yang aman serta nyaman, dikatakannya, menjadikan Bali pilihan terbaik tempat penyelenggaraan wisata konvensi atau wisata MICE.

India dan Amerika menjadi pasar yang kini tengah dilirik oleh para pelaku pariwisata di Bali. India dan Amerika menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua dan ketiga di dunia.

Kedua negara ini memiliki jumlah orang kaya yang sangat banyak. Asita Bali bertemu dengan pihak Garuda untuk meminta dukungan penerbangan kedua destinasi ini.

“India memiliki sekitar 400 orang kaya dan sekitar 200 orang dari mereka telah memiliki paspor,” ujar salah seorang pengurus Asita Bali, saat bertemu dengan General Manager Garuda Indonesia Denpasar, belum lama ini.

Dalam acara tersebut, pihak Asita menyampaikan harapannya agar Garuda Indonesia bisa memberikan dukungan penerbangan untuk menggarap pasar India dan Amerika.

Asita Bali ini pelaku pariwisata di Bali tidak akan bisa berbuat banyak tanpa adanya dukungan dari airlines. Garuda sebagai national carrier merupakan harapan bagi industri pariwisata untuk menggarap pasar wisata dunia. “Garuda berada di barisan depan, tanpa airlines kita sebagai industri tidak akan bisa berbuat banyak,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ia juga menjelaskan pembentukan divisi untuk menggarap kedua pasar Amerika dan India. “Kita sudah membentuk Asita Bali The Americas Division untuk menggarap pasar Amerika dan Asita Bali India Division sebagai divisi pasar India,” katanya.

General Manager Garuda Indonesia ini dalam kesempatan tersebut menyatakan dukungannya atas permintaan dari Asita. “Kita ingin terbang ke semua negara, namun kita tidak bisa melakukannya jika tidak ada demand. Kita minta jaminan dari Asita. Kalau industri berani menjamin ada penumpang kita akan mengajukan permohonan kepada kantor pusat,” katanya.

Dikatakan, tahun 2010 ini Garuda Indonesia mendatangkan banyak pesawat baru. Bahkan, diakuinya pihaknya tengah melakukan rekrutmen SDM mulai dari pilot hingga pramugari. “Kita memerlukan sekitar 600 pramugari untuk mengisi pesawat baru kita,” kata Asita Bali ini, yang juga menjabat Area Manager Australia NSW Garuda Indonesia. Tahun ini, Garuda akan membukan sejumlah rute internasional seperti rute Amsterdam.

Maraknya angkutan wisata ilegal di Bali, membuat Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Propinsi Bali berupaya melakukan langkah penertiban.

Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Bali, Kamis (21/1) kemarin mengatakan, dalam kegiatan pengawasan angkutan pariwisata ilegal di lapangan Dishub akan melibatkan Organda dan Pawiba selaku asosiasi angkutan wisata di Bali.

Dikatakan, dalam melakukan pengawasan angkutan wisata ilegal di Bali, Dishub akan membentuk tim terpadu. Tim dari Dishub ini akan berkoordinasi dengan Organda, kepolisian, dan Jasa Raharja. Tim Dishub ini juga akan melibatkan Pawiba. Asosiasi Pawiba merupakan bagian dari Organda Bali.

Dijelaskan, angkutan wisata ilegal ini akan diawasi dan akan mendapatkan pembinaan dari tim dari Dishub Bali. Sebelum melakukan pengawasan, Dishub Bali telah mengantongi data awal. Data awal tersebut meliputi kendaraan pariwisata yang diidentifikasikan ilegal.

Dipaparkan, data awal angkutan wisata ilegal dikantongi Dishub Bali ini bukan merupakan data akhir. Dalam kegiatan penertiban di lapangan kemungkinan jumlah data angkutan wisata ilegal ini dari tim Dishub Bali akan terus bertambah.

Angkutan wisata ilegal akan disasar bersama-sama oleh tim Dishub Bali. Kendaraan angkutan wisata ilegal yang disasar meliputi angkutan sewa, angkutan bus pariwisata termasuk taksi yang belum mengantongi izin operasi.

Ia menegaskan, Dishub akan menjaring kendaraan angkutan wisata ilegal di Bali. Angkutan wisata ilegal yang terjaring dalam penertiban akan melalui proses pembinaan. Pemilik kendaraan pariwisata ilegal ini akan dibina sehingga bisa melengkapi izin operasional angkutan pariwisata. “Semua pengusaha angkutan wisata di Bali mesti mengedepankan legalitas,” katanya.