Archive for the ‘Obyek Wisata Bali’ Category

Puluhan awak media lokal dan nasional, mencoba deburan ombak Pantai Kuta di atas papan surfing. Kursus singkat surfing yang diadakan oleh Mazda Indonesia ini, sebagai salah satu kegiatan test drive Mazda2.

Keindahan alam dan budaya Bali memukau rombongan test drive selama berada di Bali. Sejumlah tempat indah mulai dari Pecatu hingga keindahan Pantai adalah pengalaman yang tak akan terlupakan oleh rombongan perusahaan otomotif asal Jepang ini dan wartawan.

Kursus singkat berselancar ternyata sangat mengasyikkan bagi para peserta. Kendati hanya beberapa jam saja, namun sejumlah orang sudah bisa beraksi di atas deburan ombak Pantai Kuta.

Bali sebagai destinasi pariwisata memang menjadi salah satu pasar produk-produk teknologi seperti salah satunya otomotif. Tujuan promosi produk di Bali tentu lebih menguntungkan mengingat Bali banyak dikunjungi wisatawan asing. Bahkan, beberapa bule atau ekspatriat terlihat penasaran saat rombongan di tepi Pantai Kuta.

“Respons masyarakat terhadap Mazda2 sangat bagus, karenanya kita akan terus berupaya meningkatkan citranya,” ujar Presiden PT Mazda Motor Indonesia ini.

Tabanan memiliki banyak objek wisata yang tidak kalah menariknya dibandingkan dengan daerah lainnya di Bali. Salah satunya objek wisata Jatiluwih, Penebel.

Jatiluwih Tabanan BaliObjek wisata yang satu ini memang menjual keindahan alam, berupa terasering sawah. Di samping itu atraksi budaya juga memberikan andil yang cukup besar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Jatiluwih. Keindahan alam yang ditawarkan Jatiluwih memang tidak ada duanya di Bali. Bahkan, pengunjung sudah ditawarkan keindahan alam di kanan dan kiri jalan. Udara sejuk menyelimuti perjalanan begitu memasuki wilayah Kecamatan Penebel.

Atraksi budaya yang bisa dinikmati pelancong di Jatiluwih adalah dari proses pertanian dan mapag toya, ngendag, mengolah tanah, tanam padi, mebiyukukung, panen padi dan upacara lainnya. “Di samping itu, wisatawan juga bisa melihat aktivitas keseharian masyarakat setempat,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan, belum lama ini.

Karena dukungan potensi alam yang masih orisinil, atraksi trekking merupakan aktivitas yang sangat bagus dinikmati wisatawan. Sambil melakukan trekking pelancong bisa menikmati alam Jatiluwih yang masih perawan, sambil menikmati berbagai aktivitas masyarakat setempat.

Yang tidak kalah menariknya dari pemandangan di Jatiluwih adalah masih dipertahankannya padi lokal dan budi dayanya masih menggunakan pupuk organik. “Kondisi ini juga sangat menarik minat wisatawan untuk datang ke Jatiluwih,” katanya.

Bagi wisatawan yang memang menyukai objek wisata alam pegunungan, katanya, Jatiluwih merupakan pilihan yang sangat pas. Di samping itu menu makanan dan minuman yang ditawarkan kepada wisatawan juga masih sangat natural, sehingga wisatawan tidak usah ragu terhadap menu yang ditawarkan masyarakat setempat. “Semua menu makanan yang ditawarkan di Jatiluwih sangat aman dan nyaman untuk dinikmati,” katanya.

Sambil duduk dan menikmati menu makanan di sebuah warung kopi di kawasan, Jatiluwih, pelancong bisa menikmati keindahan sawah berteras di Jatiluwih. Pelancong bisa datang ke Jatiluwih pagi atau pun sore hari, karena aktivitas masyarakat setempat hampir sehari penuh di sawah.

Sampah menjadi ”tamu” rutin Pantai Kuta tiap tahun. Ratusan kubik sampah tiap hari memenuhi permukaan pantai. Sampah ini sangat mengganggu pemandangan dan aktivitas wisata.

Wisatawan harus melewati tumpukan sampah ketika ingin mandi atau surfing. Pada saat yang bersamaan sejumlah pemulung mencari sampah plastik di balik tumpukan sampah.

Pada Minggu (17/1) kemarin, banyak wisatawan yang tetap datang ke pantai yang cukup ramai di Bali tersebut. Tumpukan sampah seperti masih terkalahkan oleh image yang selama ini sudah terbentuk. Sampah-sampah ini dibawa oleh arus air laut, akibat dampak hembusan angin barat sejak bulan Desember lalu.

”Petugas kebersihan kami telah berupaya melakukan pembersihan tumpukan sampah di sepanjang pantai,” kata Ketua Unit Satgas Pantai Kuta, kemarin.

Ia mengatakan, dampak angin barat yang berembus sejak pertengahan Desember 2009 hingga sekarang menyebabkan sampah-sampah yang dibawa arus air laut itu berjejal menumpuk di Pantai Kuta.

Ia mengatakan, telah mengerahkan petugas satgas dan para pedagang, sejak pagi hingga sore hari untuk membersihkan sampah itu. Namun, pihaknya mengakui kewalahan untuk menangani tumpukan sampah pada musim sekarang.

Untuk membersihkan sampah di sepanjang Pantai Kuta pihaknya mengerahkan 33 orang dari petugas Satgas pantai dan 1.000 orang dari para pedagang yang berjualan di pantai.

Pembersihan pantai dilakukan sejak pagi hingga sore. Padahal, kalau kondisi normal pembersihan dilakukan 2 kali pada pagi dan sore hari. Selain menggunakan tenaga manusia, pembersihan sampah kiriman ini juga menggunakan tiga unit alat berat dan satu kendaraan truk sampah.

”Pada musim sekarang kami perkirakan pengumpulan sampah mencapai ribuan kubik, padahal biasanya hanya beberapa kubik saja,” katanya. Jenis sampah yang menjadi langganan tahunan ini mulai dari sampah plastik hingga pohon besar.

Sementara itu, salah satu penjual suvenir yang biasa berjualan di kawasan Pantai Kuta mengaku, tumpukan sampah yang telah menjadi pemandangan sehari-hari, tidak hanya mengganggu pemandangan di Pantai Kuta, namun juga aktivitas wisatawan.

“Sejak ada tumpukan sampah ini, omzet penjualan saya juga ikut turun. Kalau dulu sebelum ada sampah bisa laku empat atau lima biji, sekarang bisa-bisa tak dapat jualan. Habis, turisnya malas jemuran di dekat sampah,” ungkapnya.

Para pedagang maupun penyedia jasa sewa papan surfing dan kano , dikatakannya, sehari-harinya terus dilibatkan dalam membersihkan sampah di pantai. Namun, sampah-sampah ini masih tetap menggunung.

Sementara itu, salah seorang petugas Balawista Badung mengimbau, agar para pengunjung menjauh dari garis bahaya yakni kawasan pantai yang menjadi sasaran deburan ombak yang terus merambat naik.

“Kondisi Pantai Kuta saat ini tergolong normal, tapi kami mengimbau kepada penguna pantai agar tetap waspada. Sebab, tingginya gelombang disertai angin kencang bisa saja terjadi secara tiba-tiba,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa petugas Balawista tetap siaga di 12 pos di sepanjang Pantai Kuta hingga Legian.

Menurutnya, sejumlah bendera merah sebagai pertanda bahwa perairannya berbahaya, dan dilarang untuk berenang maupun berselancar serta bendera merah kuning yang boleh untuk beraktivitas tetap terpasang di beberapa tempat.

Kawasan Pantai Kuta, sampai saat ini dinyatakan aman bagi wisatawan yang ingin berendam, apalagi sekadar berbasah-basahan atau bermain di air, termasuk menggunakan papan selancar, karena ombaknya tergolong normal.

“Tidak pernah ada penutupan atau pelarangan bagi pengunjung. Saat musim ombak besar dengan ketinggian tiga hingga empat meter pada April hingga Juli lalu, kami juga tidak melakukan penutupan.

Apalagi sekarang ombaknya hanya satu hingga 1,5 meter,” kata Seorang Koordinator Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Badung, Jumat (15/1) kemarin.

Ia mengatakan, selama bendera merah – kuning di pasang di salah satu tujuan favorit wisata air di Bali itu, maka wisatawan diperbolehkan bermain di air; berendam, berselancar (surfing) atau bahkan berenang.

Fasilitas untuk bilas atau mandi di deretan pinggir pantai dekat jalan raya juga tetap beroperasi seperti biasa, guna melayani wisatawan untuk membersihkan diri setelah bermain di air, berselancar, berendam atau berenang.

Wisatawan dilarang bermain dan berendam di perairan, apalagi berenang ke tengah, hanya pada perairan tertentu di antara dua bendera berwarna merah, karena arusnya deras.

“Meski masih tergolong aman, kami tetap selalu siaga untuk menjaga keselamatan wisatawan. Sekitar 68 personal siaga sejak dari Pantai Kuta, Legian, hingga Seminyak ditambah personal lain yang siap di kantor, jumlahnya sekitar 50 orang,” katanya.

Ia nienjelaskan, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar di Tuban memperkirakan terjadi ombak besar di laut selatan pulau Bali, namun di Kuta dan sekitarnya masih tergolong aman.

Hanya saja, katanya saat ini memang ada gangguan pasir yang seringkali terbawa angina. Namun, pada saat hujan dan pasir basah, hal itu tidak tenjadi.

Sementara Ketua Satgas Pantai Kuta, mengatakan, di tengah membanjirnya sampah yang terbawa arus air laut di Kuta, para pedagang dan penyedia jasa di pantai itu ditata dalam upaya meningkatkan kenyamanan wisatawan.

“Penataan para pedagang dan penyedia jasa dilakukan Desa Adat Kuta selaku pengelola pantai. Kami berharap kondisi dan suasana pantai bisa lebih nyaman,” katanya.

Ia mengatakan, pedagang dan penyedia jasa dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu pedagang makanan dan minuman, usaha jasa pijat perorangan dan penyewaan papan selancar.

Trunyan menjadi destinasi menarik bagi wisatawan seluruh dunia. Keberadaan kuburan di Trunyan hanya satu-satunya di dunia. Adanya oknum masyarakat yang melakukan tindakan pemerasan dan intimidasi di destinasi tersebut akan menjadi ancaman serius.

Beberapa waktu lalu, menemukan banyak kejadian yang janggal. Mulai dari berangkat naik perahu motor hingga sampai di kuburan tua Trunyan. Begitu sampai di dermaga Trunyan, kita sudah disambut oleh sejumlah orang yang menggunakan pakaian adat. Mereka adalah guide lokal yang akan memandu wisatawan selama di sana.

Salah seorang rombongan awak media langsung dimintai sebungkus rokok. Dengan santai salah seorang guide lokal ini meminta rokok. “Minta rokok,” ungkap guide lokal tersebut. Dikira hanya minta satu batang, mereka malah mengambil semuanya.

Setelah sekian lama, ternyata oknum guide lokal ini mengembalikan bungkusan rokok tersebut begitu mengetahui yang “dipalak” adalah seorang wartawan. “Ini rokoknya saya kembalikan,” ujar oknum guide tersebut.

Kejanggalan bukan hanya itu saja, saat memasuki kuburan ada hal aneh lagi. Sekitar 5 lembar uang Rp 100.000-an berserakan di atas nampan. Menurut keterangan mereka (oknum guide ) itu adalah sumbangan sukarela, namun ternyata uang ratusan ribu itu ternyata hanya pancingan.

Saat itu, kebetulan dua orang wisatawan asal Rusia berbarengan dengan rombongan media berkunjung ke sana . Wisatawan Rusia pun akhirnya terkena pancingan tersebut. Sekitar Rp 300.000 uang wisatawan diserahkan sebagai sumbangan.

Kejadian ini memang membuktikan adanya penyimpangan di objek wisata Trunyan. Ternyata sampai saat ini pun pemalakan dan cara-cara tidak benar masih merajalela. Hal ini memang sangat miris karena sejak lama ada wacana untuk pemberantasan tindakan kejahatan dan penataan objek ini.

Jika ini dibiarkan, pariwisata di tempat ini memang tidak akan bisa berkembang. Bahkan, jika terus terjadi pemalakan terselubung ini, bisa menghancurkan pariwisata Bali . Pemerintah memang harus segera bertindak melakukan penertiban dan pembagian kontribusi secara adil. Kita lihat gebrakan yang dilakukan oleh pemerintah menata destinasi ini.

Objek wisata berupa pura di Bali, masih ramai dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) yang berlibur di Gianyar, khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Gianyar. Salah satunya adalah Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Batuan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan pascaliburan Natal dan Tahun Baru.

Jumlah kunjungan wisman di pura tersebut sekarang ini rata-rata mencapai 500 orang per hari. Salah seorang petugas yang melayani wisman ke objek tersebut, Jumat (8/1) kemarin mengatakan, Pura Desa dan Pura Puseh Batuan sampai saat ini tetap menjadi salah satu objek wisata menarik yang dikunjungi oleh banyak wisman maupun wisdom yang berlibur di Gianyar. Ini terbukti dengan masih tetap ramainya wisatawan yang berkunjung ke objek tersebut.

Dipilihnya Pura Desa Batuan untuk dikunjungi, karena pura tersebut banyak menyimpan sejarah. Di samping itu, ornamen bangunan pura tidak ada duanya di Bali jika dilihat dari keindahannya, bahan bangunannya dan lainnya. Dengan demikian, tiap wisatawan yang menyaksikan keindahan pura tersebut menjadi terkagum-kagum.

Terlebih lagi, penataan pura baik bangunan, halaman maupun lingkungan yang indah serta asri membuat wisatawan mengaguminya.

“Sampai saat ini wisatawan yang mengunjungi pura ini tidak dipungut retribusi, hanya disarankan medana punia yang besar kecilnya tidak ditentukan,” kata seorang asal Br. Peninjauan Batuan yang bertugas melayani kamben (kain) kepada tiap wisatawan yang akan memasuki halaman pura untuk berkunjung.

Tiap wisatawan yang akan mengunjungi pura tersebut memang diwajibkan mengenakan kain yang telah disediakan oleh desa adat sebagai pengelolanya. Akibat dari ramainya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, pemasukan dana punia dari wisatawan juga cukup besar. Mengingat, uang yang dimasukkan ke kotak dana punia oleh wisatawan mancanegara itu mulai dengan uang pecahan terkecil Rp 5.000 bahkan ada yang sampai Rp 50.000 untuk tiap wisatawan.

Selama tahun 2009, jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara di Gianyar mengalami kenaikan dibanding dengan tahun sebelumnya, Sampai dengan akhir November 2009, jumlah kunjungan wisdom maupun wisman sudah mencapai 519.562 orang yang didominasi oleh wisman sebanyak 385.957 orang. Khusus untuk di bulan Oktober sampai November 2009 terjadi kenaikan yang cukup mencolok berkat kedatangan bintang film Hollywood Julia Robert yang syuting film di Ubud, Gianyar.

“Selain karena situasi keamanan yang makin kondusif kedatangan bintang film Hollywood yang syuting di Gianyar juga berdampak sangat signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman ke Gianyar” ungkap Kadis Pariwisata Gianyar, Kamis (31/12) lalu.

Ia mengatakan, Gianyar masih menjadi tempat kunjungan wisdom maupun mancanegara yang sangat menarik di Bali. Selain mengunjungi pasar seni juga banyak objek-objek wisata terkenal lainnya baik yang dikelola oleh pemerintah daerah ataupun swasta. Dicontohkannya, objek wisata Goa Gajah Tampaksiring, Taman Burung, wisata gajah, rafting dan museum yang semuanya menjadi tempat kunjungan yang sangat menarik. Di samping berkunjung ke objek-objek wisata spiritual yang sudah dikembangkan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara selama ini.

“Kita aptimis tahun 2010 pariwisata akan berkembang lebih baik. Selain disebabkan kondisi Perekonomian negara di dunia yang sudah membaik juga makin kondusifnya kondisi keamanan di dalam negeri”. katanya.

“Ia menambahkan, sedikitnya ada 16 objek wisata menarik yang bisa dikurangi oleh wisatawan mancanegara maupun domestik di Gianyar. Dari16 objek wisata itu ada juga dikelola oleh pemerintah daerah dan sebagian sebagian besar dikelola oleh pihak swasta. Dari jumlah objek yang ada itu, semuanya sempat dikunjungi oleh wisatawan dengan yang paling menjadi primadona yakni Tirta Empul Tampaksiring yang jumlahnya lebih dari 400.000 orang selama 2009.

Terjadinya kembali peristiwa tidak menyenangkan terhadap turis Jepang, dikhawatirkan akan berdampak kurang bagus bagi pertumbuhan sektor pariwisata, termasuk berkurangnya pelancong asal negeri Sakura itu ke Bali di masa mendatang.

“Masyarakat Jepang sensitif terhadap peristiwa seperti ini, apalagi ada pembunuhan yang menimpa rekannya. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata seorang pengusaha perhotelan di Ubud, Senin (28/12) lalu.
Seorang turis asal Jepang ditemukan tewas dengan kondisi penuh luka di rumah kontrakannya di Kuta, Sabtu (26/12) malam. Sebelumnya, pada September 2009, juga seorang turis asal Jepang (33) yang tengah berlibur ke Bali ditemukan tewas di tanah kosong di Jalan Mertanadi Kuta.

Bali dijuluki Pulau Surga oleh masyarakat internasional, tapi kemudian di sini terjadi peristiwa yang menyedihkan seperti halnya dialami kedua turis asal Jepang itu. Ini jelas akan berpengaruh negatif,” katanya.

Apalagi, katanya, masyarakat Jepang paling takut terhadap peristiwa-peristiwa duka. Selama ini mereka paling tidak berani jika diajak untuk menyaksikan upacara pembakaran mayat atau ngaben di Bali.

Peristiwa pemboman di Jakarta beberapa bulan lalu dan terorisme lainnya di Indonesia sudah memberikan dampak kurang bagus bagi sektor pariwisata di Indonesia, apalagi peristiwa akhir tahun di Bali menimpa langsung turis Jepang.

“Dengan adanya aksi terorisme beberapa waktu lalu, jumlah turis Jepang yang berlibur ke Pulau Dewata, umumnya anak-anak muda sudah berkurang. Tamu Jepang yang menginap agak berkurang dari tahun sebelumnya,” katanya.

Data di Dinas Pariwisata Daerah Bali menunjukkan turis Jepang ke Pulau Dewata selama Januari hingga Oktober 2009 hanya 281.458 atau turun 9,14 persen jika dibandingkan periode yang sama 2008 yang mencapai 309.788 orang.

Maraknya pelajar yang merayakan libur sekolah, turut mewarnai libur panjang akhir tahun di Bali. Bus serta kendaraan pribadi yang membawa rombongan murid sekolah yang berasal dari Jawa seperti Surabaya, Malang, Yogyakarta, Jakarta dan daerah lainnya cukup ramai. Mereka terlihat memenuhi sejumlah kawasan wisata alam seperti Sangeh (Badung) dan Tanah Lot (Tabanan).

“Sejak perayaan Natal lalu hingga saat ini, jumlah pengunjung khususnya pelajar yang berkunjung menyaksikan satwa kera rata-rata mencapai 1.000 orang lebih per hari,” ujar Manajer Operasional Objek Wisata Alam Sangeh, Selasa (29/12) kemarin.

Dibandingkan perayaan libur akhir tahun sebelumnya, jumlah wisatawan domestik tahun ini yang mengalami peningkatan sekitar 40 persen, diakuinya sangat terasa. Bahkan, hujan yang kerap turun akhir-akhir ini tidak membatalkan minat mereka berkunjung ke objek wisata Sangeh.

“Meski hujan, banyak pengunjung yang ingin tahu bagaimana keadaan kera di saat hujan. Mereka rela harus antre untuk mendapatkan payung,” katanya.

Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Tanah Lot. Hal ini ditandai dengan jumlah kunjungan yang cukup ramai yaitu untuk wisatawan domestik yang didominasi pelajar jumlahnya mencapai 8.132 orang. Sementara untuk wisatawan mancanegara jumlah kunjungan sebesar 1.792 orang. Jadi total jumlah kunjungan wisatawan mencapai 9.924 orang.

“Dari segi keamanan, kami lebih menyiagakan petugas keamanan di lapangan. Seperti dengan menambah personil pecalang di sore hari, karena keramaian akan meningkat di sore hari. Dengan dipasangnya beberapa kamera pengintai tambahan (CCTV) di titik-titik rawan kepadatan,” kata Kepala Operasional Tanah Lot.

“Di tengah melonjaknya pengunjung yang datang, kami berharap tidak terjadi hal-hal yang bisa merugikan wisatawan dan tentunya keamanan wisatawan tetap terjaga sehingga wisatawan merasa aman,” katanya.

Tingginya tingkat kunjungan wisatawan ke Bali terkait libur panjang Natal dan Tahun Baru, membuat sebagian biro perjalanan di Bali resah. Pasalnya, menjelang hingga sepekan pasca perayaan Tahun Baru, sebagian besar hotel dipastikan penuh.

“Biasanya kami mengalami kesulitan untuk mencari kamar hotel yang bisa dipesan di Bali, Terutama untuk kawasan Kuta, Sanur, Nusa Dua dan Ubud. Sebab, hampir tiap hotel berbintang maupun melati di kawasan pariwisata Bali terutama Kuta, Nusa Dua yang terletak di Badung hingga Denpasar dan Ubud rata-rata tidak ada yang masih memiliki kamar,” ujar seorang General Manager sebuah biro perjalanan di Kuta.

Turis domestik, menurutnya, rata-rata memilih menginap di hotel yang ada di kawasan Bali Selatan, jarang yang mau menginap di kawasan wisata Bali Utara dan Bali Timur seperti Karangasem dan Buleleng.

“Tahun lalu, banyak pesanan paket wisata dari tamu domestik yang terpaksa kami tolak lantaran tidak ada lagi penginapan yang bisa dibooking. Sebab. mereka hanya mau menginap di kawasan Badung dan Denpasar saja,” katanya.

Banyaknya wisdom yang merayakan hari libur Nataru di Bali, diakuinya, melonjak mencapai 50 persen dibandingkan hari-hari normal.

Banyaknya wisatawan domestik yang memilih merayakan libur Nataru di Bali juga diakui seorang Manager Marketing sebuah Hotel di Sanur.

Sejak memasuki libur Tahun Baru Hijriyah yang bertepatan dengan libur akhir pekan, tingkat hunian di hotel tersebut sudah mencapai 85 persen. “Tingkat hunian hotel untuk libur Nataru nanti sudah penuh.

Wisatawan yang menginap kebanyakan dari kalangan domestik. Mereka akan check out dari hotel setelah Tahun Baru,” katanya.